TAFSIR IBNU KATSIR SURAT AT-TIIN

Surat 95 : AT-TIIN
Diturunkan di MAKKAH

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُون
1) Demi buah tiin, demi buah zaitun.
By the Fig and the Olive,

وَطُورِ سِينِينَ
2) Demi gunung Sinai.
And the Mount of Sinai,

وَهَذَا الْبَلَدِ الأَمِينِ
3) Demi negeri yang aman ini.
And this City of security

Dalam ayat yang pertama; “Demi buah tiin, demi buah zaitun.” (ayat 1).

Terdapat berbagai tafsiran. Menurut Mujahid dan Hasan, kedua buah-buahan itu diambil jadi sumpah oleh Tuhan untuk diperhatikan. Buah TIIN diambil sumpah karena dia buah yang terkenal untuk dimakan, buah ZAITUN karena dia dapat ditempa dan diambil minyaknya. Kata Qatadah: Tiin adalah nama sebuah bukit di Damaskus dan Zaitun nama pula dari sebuah bukit di Baitul-Maqdis.” Tandanya kedua negeri itu penting untuk diperhatikan. Dan menurut sebuah riwayat pula, yang diterima dari Ibnu Abbas, “Tiin adalah mesjid yang mula didirikan oleh Nuh di atas gunung al-Judi, dan Zaitun adalah Baitul-Maqdis.”

Banyak ahli tafsir cenderung menyatakan bahwa kepentingan kedua buah-buahan itu sendirilah yang menyebabkan keduanya diambil jadi sumpah. Buah Tiin adalah buah yang lunak lembut, kemat, hampir berdekatan rasanya dengan buah serikaya yang tumbuh di negeri kita dan banyak sekali tumbuh di Pulau Sumbawa. Zaitun masyhur karena minyaknya.

Tetapi terdapat lagi tafsir yang lain menyatakan bahwa buah Tiin dan Zaitun itu banyak sekali tumbuh di Palestina. Di dekat Jerusalem pun ada sebuah bukit yang bemama Bukit Zaitun, karena di sana memang banyak tumbuh pohon zaitun itu. Menurut kepercayaan dari bukit itulah Nabi Isa Almasih mi’raj ke langit.

‘Demi gunung Sinai.’ (ayat 2).

Di ayat ini disebut namanya Thurisinina, disebut juga Thursina, disebut juga Sinai dan disebut juga Thur saja. Kita kenal sekarang dengan sebutan Semenanjung Sinai.

“Demi negeri yang aman (ayat 3).

Negeri yang aman ini ialah Makkah, tempat ayat ini diturunkan. Sebab itu dikatakan “INI”.
Berkata Ibnu Katsir : Berkata setengah imam-imam : Inilah tiga tempat, yang di masing-masing tempat itu Allah swt telah membangkitkan Nabi-nabi utusanNya, Rasul-rasul yang terkemuka, mempunyai syariat yang besar-besar. Pertama tempat yang di sana banyak tumbuh Tiin dan Zaitun. Itulah Baitul-Maqdis. Di sanalah Tuhan mengutus Isa bin Maryam ‘alaihis-salam.

Kedua : Thurisinina, yaitu Thurisina, tempat Allah swt bercakap-cakap dengan Musa bin ‘Imran, ‘alaihis-salam.
Ketiga : Negeri yang aman, yaitu Makkah. Barangsiapa yang masuk ke sana, terjaminlah keamanannya. Di sanalah diutus Tuhan RasulNya Muhammad s.a.w.

Kata Ibnu Katsir selanjutnya: “Dan di dalam Taurat pun telah disebut tempat yang tiga ini; ‘Telah datang Allah swt dan Thursina,’ yaitu Allah swt telah bercakap-cakap dengan Musa. “Dan memancar Dia dari Seir,” yaitu sebuah di antara bukit-bukit di Baitul-Maqdis, yang di sana Isa Almasih dibangkitkan. “Dan menyatakan dirinya di Faran.” Yaitu nama bukit-bukit Makkah, tempat Muhammad s.a.w. diutus.

Maka disebutkan itu semuanya guna memberitakan adanya Rasul-rasul itu sebab itu diambilNya sumpah berurutan yang mulia, yang lebih mulia dan yang paling mulia.”
Maka bersumpahlah Tuhan; Demi buah tiin, demi buah zaitun. Demi Bukit Thurisinina, demi Negeri yang aman Tuhan bersumpah dengan tiin dan zaitun, itulah lambang dari pergunungan Jerusalem, Tanah Suci, yang di sana kedua buah-buahan itu banyak tumbuh, dan di sana Almasih diutus Allah dengan Injilnya.

Dan bersumpah pula Tuhan dengan Thursina, yaitu gunung tempat Tuhan bercakap dengan Musa dan tempat Tuhan memanggil dia, di lembahnya yang sebelah kanan, di tumpak tanah yang diberi berkat yang ber¬nama Thuwa, di pohon kayu itu. Dan bersumpah pula Tuhan dengan Negeri yang aman sentosa ini, yaitu negeri Makkah, di sanalah Ibrahim menempatkan puteranya tertua Ismail bersama ibunya Hajar. Dan negeri itu pulalah yang dijadikan Allah tanah haram yang aman sentosa. Sedang di luar batasnya orang rampas-merampas, rampok-merampok, culik-menculik. Dan dijadikanNya negeri itu aman dalam kejadian, aman dalam perintah Tuhan, aman dalam takdir dan aman menurut syara’.”

Seterusnya Ibnu Taimiyah berkata: “Maka firman Tuhan “Demi buah tiin, demi buah zaitun. Demi Bukit Thurisinina. Demi negeri yang aman ini,” adalah sumpah kemuliaan yang dianugerahkan Tuhan kepada ketiga tempat yang mulia lagi agung, yang di sana sinar Allah dan petunjukNya dan di ketiga tempat itu diturunkan ketiga kitabNya; Taurat, Injil dan al-Quran, sebagai¬mana yang telah disebutkannya ketiganya itu dalam Taurat: “Datang Allah dari Torsina, telah terbit di Seir dan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran.” Sekedar itu kita salinkan dari lbnu Taimiyah.

Selanjutnya ada pula penafsir-penafsir zaman sekarang sebagai disebutkan oleh al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahwa sumpah Allah dengan buah tiin yang dimaksud ialah pohon Bodhi tempat bersemadinya Buddha Gaotama ketika beliau mencari Hikmat Tertinggi. Buddha adalah pendiri dari agama Buddha yang di kemudian harinya telah banyak berobah dari ajarannya yang asli. Sebab ajarannya itu tidak ditulis pada zamannya melainkan lama se-sudah matinya. Dia hanya diriwayatkan sebagai riwayat-riwayat Hadis-hadis dalam kalangan kita Muslimin, dari mulut ke mulut Lama kemudian baru ditulis, setelah pemeluk-pemeluknya bertambah maju.

Menurut penafsir ini pendiri buddha itu nama kecilnya ialah Sakiamuni atau Gaotama. Mula kebangkitannya ialah seketika dia berteduh bersemadi di bawah pohon kayu Bodhi yang besar. Di waktu itulah turun wahyu kepadanya, lalu dia diutus menjadi Rasul Allah. Syaitan berkali-kali mencoba memperdayakannya, tetapi tidaklah telap. Pohon Bodhi itu menjadi pohon yang suci pada kepercayaan penganut Buddha, yang mereka namai juga Acapala.

Besar sekali kemungkinan bahwa penafsir yang menafsirkan buah Tiin di dalam al-Quran itu dengan pohon bodhi tempat Buddha bersemadi, belum mendalami benar-benar filsafat ajaran Buddha. Menurut penyelidikan ahli-ahli, Buddha itu lebih banyak mengajarkan filsafat menghadapi hidup ini, dan tidak membicarakan Ketuhanan. Lalu pengikut Buddha yang datang di belakang memuaskan hati mereka dengan menuhankan Buddha itu sendiri.

Tetapi seorang ulama Besar dari Arabia dan Sudan, Syaikh Ahmad Soorkati yang telah mustautin di Indonesia ini pernah pula menyatakan per¬kiraan beliau, kemungkinan besar sekali bahwa yang dimaksud dengan se¬orang Rasul Allah yang tersebut namanya dalam al-Quran Dzul-Kiflii: Itulah Buddha, Asal makna dari Dzul-Kifli ialah yang empunya pengasuhan, atau yang ahli dalam mengasuh. Mungkin mengasuh jiwa manusia. Maka Syaikh Ahmad Soorkati menyatakan pendapat bahwa kalimat Kifli berdekatan dengan nama negeri tempat Buddha dilahirkan, yaitu Kapilawastu.

Dan semuanya ini adalah penafsiran. Kebenarannya yang mutlak tetaplah pada Allah sendiri.

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
4) Sesungguhnya telah Kami cipta¬kan manusia itu atas sebaik-baik pendirian.
We have indeed created man in the best of moulds,

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
5) Kemudian itu, Kami jatuhkan dia kepada serendah-rendah yang rendah.
Then do We abase him (to be) the lowest of the low,-

إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ
مَمْنُونٍ
6) Kecuali orang-orang yang ber¬iman dan beramal shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran yang tiada putus-putus.
Except such as believe and do righteous deeds: For they shall have a reward unfailing.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّين
7) Maka apakah sesuatu yang akan mendustakan kamu tentang agama?
Then what can, after this, contradict thee, as to the judgment (to come)?

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
8) Bukankah Allah itu yang paling adil di antara segala yang meng¬hukum?
Is not Allah the wisest of judges?

“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu atas sebaik-baik pen-dirian.” (ayat 4).

Ayat inilah permulaan dari apa yang telah Allah mulaikan lebih dahulu dengan sumpah.
Yaitu, bahwasanya di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini, manusialah yang diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk; bentuk lahir dan bentuk batin. Bentuk tubuh dan bentuk nyawa. Bentuk tubuhnya melebihi keindahan bentuk tubuh hewan yang lain. tentang ukuran dirinya, tentang manis air-mukanya, sehingga dinamai basyar, artinya wajah yang mengandung gembira, sangat berbeda dengan binatang yang lain. Dan manusia diberi pula akal, bukan semata-mata nafasnya yang turun naik. Maka dengan perse-imbangan sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu dapatlah dia hidup di permukaan bumi ini menjadi pengatur. Kemudian itu Tuhan pun mengutus pula Rasul-rasul membawakan petunjuk bagaimana caranya menjalani hidup ini supaya selamat.

“Kemudian itu, Kami jatuhkan dia kepada serendah-rendah yang rendah.” (ayat 5).

Demikianlah Allah mentakdirkan kejadian manusia itu. Sesudah lahir ke dunia, dengan beransur tubuh menjadi kuat dan dapat berjalan, dan akal pun berkembang, sampai dewasa, sampai di puncak kemegahan umur. Kemudian itu beransur menurun badan tadi, beransurlah tua. Beransur badan lemah dan fikiran mulai pula lemah, tenaga mulai berkurang, sehingga mulai rontok gigi, rambut hitam berganti dengan uban, kulit yang tegang menjadi kendor, telinga pun beransur kurang pendengarannya, dan mulailah pelupa. Dan kalau umur itu masih panjang juga mulailah padam kekuatan akal itu sama-sekali, sehingga kembali seperti kanak-kanak, sudah minta belas kasihan anak dan cucu. Malahan ada yang sampai pikun tidak tahu apa-apa lagi. Inilah yang dinamai أرذل العمر “Ardzalil-`umur”; tua nyanyuk. Sehingga tersebut di dalam salah satu doa yang diajarkan Nabi s.a.w. agar kita memohon juga kepada Tuhan jangan sampai dikembalikan kepada umur sangat tua (Al-harami) dan pikun itu.

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.” (pangkal ayat 6).

Menurut tafsir dari Ibnu Jarir: “Beriman dan beramal shalih di waktu badan masih muda dan sihat.” “Maka untuk mereka adalah ganjaran yang tiada putus-¬putus.” (ujung ayat 6):

Doa yang diajarkan Nabi s.a.w. itu ialah:

اللهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ وَالكَسَلِ وَالهَرَمِ وَأَرْذَلِ العُمُرِ وَعَذَابِ القَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ (رواه البخاري عن أنس بن مالك)

‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau daripada bakhil dan pemalas, dan tua dan kembali pikun dan daripada siksa kubur dan fitnah Dajjal dan fitnah hidup dan fitnah mati.” (Riwayat Bukhara daripada Anas bin Malik)
Menurut keterangan Saiyidina Ali bin Abu Thalib kembali kepada umur tua renta ardzalil–‘umur itu ialah tujuh lima tahun.

Di dalam al-Quran umur tua renta ardzalil-‘umur itu sampai bertemu dua kali. Yaitu ayat 70 dari Surat an-Nahl (lebah) Surat 16 dan Surat al-Haj, (22) ayat 5.
Ketika menafsirkan Ardzalil-‘umur itu terdapatlah satu tafsir dari Ibnu Abbas demikian bunyinya: “Asal saja dia taat kepada Allah di masa-masa mudanya, meskipun dia telah tua sehingga akalnya mulai tidak jalan lagi, namun buat dia masih tetap dituliskan amal shalihnya sebagaimana di waktu mudanya itu jua, dan tidaklah dia akan dianggap berdosa lagi atas perbuatan¬nya di waktu akalnya tak ada lagi itu. Sebab dia adalah beriman. Dia adalah taat kepada Allah di masa mudanya.”
Diriwayatkan juga dari lbnu Abbas dan lkrimah;

مَنْ جَمَعَ القُرْآنَ فَلاَ يُرْجَعُ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Barangsiapa yang mengumpulkan al-Quran tidaklah akan dikembalikan kepada ardzalil ‘umur. Kepada tua pikun, Insya Allah!”
Tentang ini penulis tafsir ini berpengalaman. ‘Ammati (saudara perempuan ayahku), Uaik Tuo Aisyah meninggal dalam usia 86 tahun. Sejak beberapa tahun sebelum meninggal beliau telah pekak tuli, sehingga tidak mendengar lagi apa yang kita bicarakan dekat beliau. Tetapi sejak masih gadisnya beliau menuruti ajaran ayahnya, Tuanku Syaikh Amrullah yaitu mewiridkan membaca al-Quran sekhatam-sekhatam.

Dan kalau tidak ada kesempatan, namun Surat-surat Yaa-Siin, al-Waqi’ah, al-Kahfi, al-Mulk dan beberapa Surat yang lain yang beliau hapal di luar kepada. Dan Surat-surat itulah yang selalu beliau baca. Maka meskipun sudah tua dan telinga sudah pekak, namun beliau tidak sampai pikun. Kerja beliau sehari-hari hanya membaca al-Quran sehingga pekaknya tidak jadi rintangan baginya.

Setelah dia sakit akan meninggal, mulutnya masih berkomat-kamit membaca al-Quran. Dan beberapa jam lagi akan menutup mata masih sempat dengan senyum dia berkata bahwa dia mendengarkan suara-suara yang indah merdu membaca al-Quran. Lalu beliau suruh anak¬ cucu yang mengelilingnya turut berdiam mendengarkan bacaan itu. Padahal bacaan itu tidak didengar oleh mereka.

Dan beliau pun meninggal dalam senyum, barangkali dalam suasana men-dengar suara merdu membaca al-Quran.
Sebaliknya ada juga saya dapati, terutama orang-orang perempuan yang telah tua, yang kira-kira usianya telah mencapai 80 atau 90 tahun menjadi amat pikun hilang sama sekali ingatannya, padahal di waktu mudanya dia pun tidak pemah meninggalkan sembahyang lima waktu. Untuk mententeramkan hati kita, saya salinkan di sini sebuah Hadis:

المَوْلُوْدُ حَتَّى يَبْلُغَ الحِنْثَ مَا عَمِلَ مِنْ حَسَنَةٍ كُتِبَتْ لِوَالِدِهِ أَوْ لِوَالِدَيْهِ وَمَا عَمِلَ مِنْ سَيِّئَةٍ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ وَلاَ عَلَى وَالِدَيْهِ . فَإِذَا بَلَغَ الحِنْثَ أَجْرَى اللهُ عَلَيْهِ القَلَمَ أُمِرَ المَلَكَانِ اللَّذَانِ كَانَا مَعَهُ أَنْ يَحْفَظَا وَأَنْ يُشَدِّدَا . فَإِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً فِيْ الإِسْلاَمِ أَمَّنَهُ اللهُ مِ،َ البَلاَيَا الثَّلاَثِ : الجُنُوْنُ وَالجُذَامُ وَالبَرَصُ . فَإِذَا بَلَغَ الخَمْسِيْنَ خَفَّفَ اللهُ حِسَابَهُ . فَإِذَا بَلَغَ السِتِّيْنَ رَزَقَهُ اللهُ الإِنَابَةَ إِلَيْهِ بِمَا يُحِبُّ . فَإِذَا بَلَغَ السَّبْعِيْنَ أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ . فَإِذَا بَلَغَ الثَّمَانِيْنَ كَتَبَ اللهُ حَسَنَاتِهِ وَتَجَاوَزَ عَنْ سَيِّئَاتِهِ . فَإِذَا بَلَغَ التِّسْعِيْنَ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ فِيْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَكُتِبَ أَمِيْنَ اللهِ وَكَانَ أَسِيْرَ اللهِ فِيْ أَرْضِهِ . فَإِذَا بَلَغَ أَرْذَلَ العُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا كَتَبَ اللهُ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِيْ صِحَّتِهِ مِنَ الخَيْرِ فَإِذَا عَمِلَ سَيِّئَةً لَمْ تُكْتَبْ لَهُ (رواه أبو يعلى عن أنس بن مالك)

“Seorang anak yang dilahirkan apabila telah mulai bertumbuh pengertian¬nya, jika dia bekerja yang baik, ditulislah pahala untuk ayahnya atau kedua orang tuanya. Dan jika dia berbuat salah, tidaklah ditulis untuk dirinya dan tidak untuk orang tuanya. Apabila dia telah berkesadaran, mulailah berjalan Qalam Tuhan, diperintah Tuhan dua malaikat yang selalu menyertainya agar anak itu dijaga baik-baik dan diawasi.

Apabila telah mencapai empat puluh tahun dalam Islam, diamankan Allahlah dia daripada bala bencana yang tiga macam; (1) gila, (2) penyakit kusta, (3) penyakit balak. Apabila dia telah men¬capai lima puluh tahun, diringankan Allahlah hisab (perhitungannya). Apabila telah mencapai enam puluh tahun diberi Allahlah dia kesukaan kembali ke¬pada Allah (Inabah) dengan amalan-amalan yang disukai Allah. Apabila dia telah mencapai tujuh puluh tahun, jatuh cintalah kepadanya seluruh isi langit. Apabila dia telah mencapai delapan puluh tahun, dituliskan Allahlah segala kebaikannya dan dilampaui Tuhan saja kesalahan-kesalahannya. Apabila dia telah mencapai sembilan puluh tahun diampuni Allahlah dosa-dosanya, yang terdahulu dan yang terkemudian, dan menjadi syafa’atlah dia pada kalangan ahli rumahnya dan ditulislah dia sebagai Aminullah (Kepercayaan Allah) dan adalah dia tawanan Allah di muka bumiNya. Apabila dia telah mencapai ardzalil-‘umur (Usia sangat lanjut), sehingga dia tidak mengetahui apa-apa lagi sesudah begitu cerdas dahulunya, akan dituliskan Allah tentang dirinya yang baik-baik saja, sebagaimana yang diamalkannya di waktu sihatnya dahulu, dan kalau dia berbuat salah, tidaklah dituliskan apa-apa.”(Riwayat Abu Ya’ala dari Hadis Anas bin Malik)

Maka terpulanglah kepada Tuhan Allah sendiri, berapa umur yang akan Dia berikan kepada kita; entah mati muda atau sampai mencapai usia lanjut, asal kita sendiri mematuhi perintah-perintah Allah sejak masih muda remaja, sehingga tetap menjadi modal hidup di hari tua. Dan kita pun tetap memohon jangan kiranya kita sampai jadi tua pikun yang sampai rnemberati kepada anak -cucu. Amin.

“Maka apakah sesuatu yang akan mendustakan kamu tentang agama?” (ayat 7).

Artinya: Kalau sudah demikian halnya, yaitu bahwa Allah telah mencipta¬kan engkau, hai Insan demikian rupa, dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan setelah lanjut umur kamu akan jatuh menjadi serendah-rendahnya kalau tidak ada pendidikan dan asuhan beragama semenjak kecil, apa lagikah alasan bagi kamu akan mendustakan agama? Bukankah ajaran agama itu yang akan mem-berikan pegangan bagi kamu menempuh hidup ini, sejak mudamu sampai kepada hari tuamu? Bagaimanalah jadinya nasib kamu menempuh hidup ini kalau kamu tidak hidup beragama? Dan kalaupun ada, tetapi tidak kamu pegang dengan baik?

“Bukankah Allah itu yang paling adil di antara segala yang menghukum?” (ayat 8).

Kalau seseorang yang setia memegang ajaran agama untuk pedoman hidupnya, lalu hidupnya selamat sampai hari tuanya, bukankah itu suatu akibat yang adil dari hukum kebijaksanaan Ilahi? Dan kalau seseorang sebelum tua sudah kehilangan pedoman, dan setelah tua menjadi orang tua yang jadi beban berat kepada anak-cucu karena jiwa kosong dari pegangan, putus hubungan dengan alam, bukankah itu pun satu keputusan yang adil dari Allah?

Itu pun masih saja di dunia. Bagaimana kalau kemelaratan, kehancuran hidup sampai rendah serendah-rendahnya di dunia dan di akhirat. Melarat masuk neraka, tidakkah semuanya itu akibat yang wajar jua dari orang yang tidak mau memperdulikan petunjuk yang telah disampaikan Allah dengan perantaraan Nabi-nabi?

Maka segala petunjuk yang dibawa oleh Nabi-nabi, baik yang dilambang¬kan oleh buah tin dan zaitun yang tumbuh di pergunungan Jarusalem (Palestina) yang berupa kitab Injil, atau yang diturunkan di Jabal Thursina di Semenanjung Sinai, tempat Taurat diberikan kepada Musa, atau kitab penutup yang dibawa oleh Khatimul Anbiya’ wal Mursalin, al-Quran yang dibawa Muhammad, yang mula diturunkan di negeri yang aman, Makkah al-Mukarramah, semuanya itu adalah satu maksudnya, yaitu Addin; Agama untuk muslihat hidup manusia sejak datang ke dunia ini sampai pulangnya ke, akhirat esok.
Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis dirawikan Termidzi dari Abu Hurairah, Nabi menganjurkan bila Imam sampai pada penutup ayat ini, pada sembahyang jahar, (Alaisallaahu bi ahkamil Haakimiin), kita ma’mun sunnat membaca:

بَلَى ! وَأَنَأ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ

“Benar itu! Dan aku sendiri atas yang demikian itu turut menyaksikan.”

Sumber: http://taman-tiin.blogspot.com/

Posted on 06/05/2011, in 1 AlQur'an-Hadits. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. surat ini sering kali saya gunakan untuk sholat jamaah… he he he

    salam hangat dari blogger UMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: