OLEH: PROF. MUDJIARTO

A. POKOK BAHASAN
(1) manajemen kelas dan konstribusinya pada kelas produktif
(2) Perencanaan untuk merancang manajemen kelas yang efektif
(3) Komunikasi dengan orang tua,
(4) Berhubungan dengan anak nakal ; intervensi
(5) Masalah – masalah serius tentang kekerasan.

B. MANAJEMEN KELAS
Teori yang paling awal mengenai manajemen kelas dikemukakan oleh Jacob Kounin (1970), yang menyimpulkan bahwa kunci untuk mengelola kelas secara efektif adalah kemampuan guru untuk mencegah masalah-masalah yang terjadi dikelas termasuk menangani tindakan yang yang tidak tepat .

C. KONSTRIBUSI MANAJEMEN KELAS
1. dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar
2. mengurangi prilaku yang tidak tepat
3. mempertingi fungsi atau kegunaan waktu pembelajaran
4. meningkatkan prestasi siswa
5. merupakan faktor penting dalam membentuk sekolah efektif.

C. KOMPLEKSITAS KELAS : MEMBUTUHKAN MANAJEMEN KELAS
karekteristik kelas sangat kompleks:
(1) Multidimensional dan serentak
(2) Cepat
(3) Tidak bisa diperkirakan.
(4) Bersifat umum

E. PERENCANAAN UNTUK MANAJEMEN KELAS YANG EFEKTIF

F. MENCIPTAKAN DAN MENGAJARKAN PERATURAN: STRATEGI PENGAJARAN

Pendekatan kognitif dalam manajemen menegaskan bahwa para siswa harus mengerti alasan dibalik peraturan-peraturan yang dibuat guru. Hal ini dimaksudkan supaya mereka dapat menerima pertanggung jawaban dari prilaku mereka sendiri. Berikut ini merupakan prinsip – prinsip yang dapat digunakan oleh guru agar para siswa dapat mengerti terhadap peraturan yang ada:(1) Nyatakan peraturan secara positif. (2) Buatlah peraturan sesedikit mungkin. (3) Perhatikan masukan dari siswa. (4) Berikan penjelasan tentang alasan peraturan yang dibuat.(5) Ajarkan peraturan-peraturan tersebut sebagai suatu konsep.(6) Monitorlah peraturan yang telah dibuat tersebut sepanjang tahun ajaran

G. KOMONIKASI DENGAN ORANG TUA
Komunikasi antara guru dan orang tua bukan merupakan tambahan pengajaran, melainkan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari aspek belajar mengajar dan manajemen kelas yang akan berdampak meningkatnya prstasi dan motifasi belajar siswa.
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat setidaknya empat keuntungan yang bisa diperoleh siswa dari kerjasama antara rumah dan sekolahan: (1) Meningkatnya prestasi akademik. (2) Perilaku yang lebih positif. (3) Rata-rata kehadiran yang lebih baik. (4) Besarnya minat untuk mengerjakan PR.

G.1 Melibatkan Orang Tua: Strategi Pembelajaran
Sebenarnya semua sekolah memiliki pola komunikasi formal dengan fihak orang tua. Biasanya sekolah menyelenggarakan pertemuan orang tua atau wali murid diawal tahun pelajaran, Memberikan laporan (raport) pada setiap akhir periode pelajaran, Surat pemberitahuan kebijakan sekolah, dan lain-lain. Namun secara individu sebagai seorang guru kita meningkatkan proses komunikasi dengan orang tua. Prinsip-prinsip berikut ini dapat anda jadikan acuan: (1) Membangun komunikasi lebih dini dengan orang tua melalui surat bertanda tangan. Surat yang bertanda tangan orang tua dan anak dapat dijadikan alat untuk menjaga komitmen orang tua dalam membantu tugas sekolah anak-anak mereka.(2) Pro aktiflah dalam membangun komunikasi dengan fihak rumah. Sala satu cara yang baik untuk proaktif berkomunkasi dengan fihak keluarga termasuk orang tua dirumah adalah dengan menelfon secara pribadi diwaktu luang misalnya sore atau malam hari. Guru bisa meminta orang tua agar lebih intensif memonitor si anak.(3) Berusahalah menyelesaikan tugas secara positif. Jika guru memanggil orang tua karena masalah anaknya, maka usahakan lah menyelesaikan tiap masalah tersebut dengan kerangka positif. Tiap orang tua butuh rasa bangga kepada anak-anak mereka, karena itu jika ada masalah kemukakan pula hal-hal positif yang menggembirakan orang tua.

G.2 Hambatan Komunikasi dengan Orang Tua
Ruang kelas dengan jumlah siswa yang cukup banyak dengan latar belakang budaya yang berbeda, menghadirkan tantangan komunikasi yang unik. Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan justru mendorong partisipasi orang tua lebih menantang.
Hambatan ketelibatan oang tua berdasarkan penelitian antara lain adalah masalah ekonomi,kebiasaan dan bahasa.
Keterlibatan orang tua jelas memerlukanwaktu khusus. Penelitian menunjukkan bahwa kesibukan orang tua menghalangi mereka dalam membantu anak-anak mengejakan tugas sekolah. Begitu juga jika orang tua siswa tergolong dalam ekonomi lemah, maka mereka memiliki keterbatasan sarana dan prasarana seperti telephon, dan kendaraan tentu hal ini juga merupakan sumber hambatan komunikasi dengan sekolah.
Kebiasaan yang berbeda-beda juga dapat menjadi hambatan komunikasi dengan orang tua. Orang tua mungkin saja memiliki pengalaman persekolahan yang jauh berbeda dengan anak-anak mereka. Hampir semua orang tua pasti merupakan seorang murid pada jaman dulu. Bahkan terkadang ada masalah serius dengan masa lalu orang tua sehingga mereka ada yang suka datang kesekolah ada juga yang datang dengan tidak bahagia. Bahkan ada peneliti yang melaporkan orang tua yang datang kesekolah dan langsung muntah-muntah sakit perut. Bukan disebabkan masalah anaknya tapi karena ketika datang kesekolah teringat masa lalunya yang tidak mengenakkan.
Bahasa juga dapat menjadi kendala komunikasi orang tua dengan sekolah. Orang tua yang memiliki anak dengan kemapuan dua bahasa sedang orang tua belum menguasai bahasa tersebut kecuali bahasa ibu.

H. BERHUBUNGAN DENGAN PRILAKU YANG MENYIMPANG: INTERVENSI
Dalam pembahasan ini menekankan bagaimana manajemen kelas dalam menghadapi prilaku anak nakal. Karena betapapun sudah sangat baik apa yang dilakukan guru, tetapi masalah manajemen tetap masih akan muncul. Oleh karena itu guru juga harus terlibat dalam menyelesaikan masalah adanya prilaku yang tidak diinginkan dari siswa. Ada tiga pandangan yang akan dijadikan acuan untuk membahas masalah ini: (1) Pedoman Umum Untuk Sukses Dalam Intervensi. (2) Pendekatan kognitif dalam itervensi. (3) Pendekatan behavioristik dalam intervensi

H.1 Pedoman Umum Untuk Sukses Dalam Intervensi
(1) Withitness ( mata dibelakang kepala anda).
(2) Lindungilah kehormatan siswa.
(3) Konsistenlah.
(4) Lakukan Yang Sudah Anda Katakan Dan Yang Akan Anda Kerjakan. (5) Lakukan Intervensi Sesingkat Mungkin.
(6) Hindarilah Perdebatan.

H.2 Pendekatan Kognitif dalam Intevensi
Pemahaman adalah kata kunci pendekatan kognitif.
KOGNITIF = MEMBENTUK PEMAHAMAN & KESADARAN SISWA TERHADAP PERATURAN.

H.3 Pendekatan Behavioristik dalam Intervensi
Pendekatan ini menggunakan hukuman untuk menyadarkan siswa.
Hal yang perlu diperhatikan:
(1) Gunakan hukuman seminimal atau sejarang mungkin untuk menghindari reaksi negatif.
(2) Hindari menggunakan sarana belajar sebagai alat menghukum.
(3) Lakukan lah hukuman secara logis, sistematisdan jangan sampai menghukum karena marah.
(4) Jelaskan alternatif contoh tindakan kepada siswa.

H.4 Merancang Sebuah Sistem Manajemen Behavioristik
Untuk merancang sebuah sistem manajemen yang berdasarkan behavioristik, ikutilah tahapan-tahapan berikut ini: (1) Siapkan lah daftar peraturan yang spesifik. (2) Buatlah hal-hal yang dapat menguatkan kepatuhan terhadap peraturan tersebut secara spesifik dan tentukan pula hukuman jika melanggar peraturan (sebagai konsequensinya). (2) Pajanglah peraturan dan prosedur tersebut, Serta jelaskan konsquensi-konsquensi yang akan diterima oleh siswa. (3) Terapkanlah konsequensi – konsequensi yang telah dibuat secara konsisten.

H.5 Perbedaan Pendekatan Behavioristik Vs Pendekatan Kognitif
Untuk membuat kedisiplinan yang tegas, peraturan harus dirancang dengan jelas dan spesifik serta mengarah pada standar-standar prilaku. Sebuah sistem behavioristik tidak menekan kan pada kefahaman siswa terhadap peraturan yang ada. Hal ini bertolak belakang dengan pendekatan kognitif. Pendekatan ini terfokus pada penerapan konsekwensi dari suatu perbuatan.
Dalam mendesain sistem manajemen yang menyeluuh, para guru biasanya menggabungkan kedua isstem pendekatan baik behavioristik maupun kognitif. Pendekatan behavioristik memiliki kelebihan yaitu dapat langsung diterapkan. Dan pendekatan ini sesuai untuk menangani masalah tertentu khususnya yang kepada siswa yang masih anak-anak. Dan juga berguna untuk mengatasi masalah kenakalan yang sangat parah. Sedangkan pendekatan kognitif memerlukan waktu yang lebih lama untuk melihat hasilnya. Namun pendekatan kognitif nampaknya lebih dapat mengembangkan tanggungjawab siswa.

H.6 Intervensi Kontinum
Pelanggaran bermacam-macam jenis dan dampaknya nya, mulai dari kejadian yang tersembunyi (seperti bisikan) hingga pelanggaran yang parah (seperti berkali kalimenendang siswa lain). Karena pelanggaran bervariasi, maka reaksi guru pun harus bervariasi pula. Agar waktu pembelajaran tetap dapat digunakan secara maksimal, maka intervensi seharusnya dilakukan sesingkat mungkin.
Berikut ini gambaran tentang intervensi kontinum.

Pelanggaran Pelanggaran
Kecil serius

v

I. ASSESSMENT DAN PEMBELAJARAN
Assessment merupakan salah satu data penting yang digunakan untukmengambil keputusan. Biasanya memfokuskan kepada kemajuan pembelajaran, namun terkadang didalam asssesment memuat segala informasi yang berharga yang dibutuhkan oleguru dan siswa.
Assessment perlu menyediakan segala informasi tentang keefektifan dari manajmen yang dibuat oleh guru, bidang-bidang yang perlu ditingkatkan, dan kemajuan yang dibuat dalam mencapai tujuan manajemen. Assessment juga memeuat kemajuan individual siswa dalam menjalankan peraturan.
Karena kelas begitu kompleks, maka assessment dari sistem manajemen sangat menantang. Guru mungkin tidak dapat memperoleh gambaran seberapa baik sistem manajemen yang telah diterapkan, dan inilah peran assessment. Informasi yang akurat sangat membantu para guru untuk membuat suatu keputusan. Para guru bisa memperoleh informasi dengan cara mengidentifikasi berbagai masalah yang terjadi pada waktu atau tempat tertentu.
Assessment juga dapat menyediakan berbagai informasi berharga yang dibutuhkan oleh para siswa, sehingga mereka dapat mengembangkan tingkah lakunya berhubungan dengan sistem manajemen.

J. MASALAH-MASALAH YANG SERIUS DALAM MANAJEMEN
Dalam menghadapi kasus kekerasan dan penyerangan, maka solusi yang dapat kita lakukan adalah (1) Segera bertindak, dan (2) Solusi jangka panjang.
Tindakan yang cepat meliputi tiga tahap; (1) menghentikan perkara jika memungkinkan, (2) melindungi korban, (3) meminta pertolongan. Guru harus melakukan intervensi terhadap masalah kekerasan dengan segera melakukan tiga langkah tersebut. Jika tidak maka orang tua bisa menuntut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kendati demikian guru tidak diperkenankan secara hukum melakukan intervensi secara fisik untuk menghentikan perkelahian. Segera melaporkan kepada kepala sekolah jika memang diperlukan.
Solusi jangka panjang bisa dilakukan dengan mengajarkan siswa tentang kemampuan-kemampuan sosial seperti pengendalian diri, dan kesadaran sosial, dan juga problem solving. Para pakarjuga menyarankan untuk melibatkan peran serta orang tua sebagai salah satu upaya yang efektif dalam mengurangi tindakan kekerasan disekolah.

(Sumber: http://whuyaa.wordpress.com/)