JAKARTA, DITPAIS – Pendidikan Agama Islam menempati posisi yang sangat strategis dalam pembangunan nasional, khususnya dalam upaya pembangunan karakter bangsa. Pendidikan Agama Islam dapat menjadi sarana pendidikan keimanan, ketakwaan yang tercermin dalam ketaatan beribadah dan tingkah laku atau akhlak karimah dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Namun fakta dilapangan sampai saat ternyata kekerasan yang melibatkan para pelajar masih saja marak, yang terhangat tawuran antara siswa SMP 79 dan SMP 269 Jakarta yang menelan koraban jiwa terjadi pada tanggal 12 September 2011 kemarin. Belum lagi siswa yang telah terjerumus dalam dunia hitam narkoba dan seks bebas. Ini bukti bahwa Pendidikan Agama Islam yang seharusnya menciptakan generasi bangsa yang shaleh baik personal maupun sosial masih belum optimal.

Maka wajar kemudian jika banyak kritik yang bermunculan kepada Pendidikan Islam. Diantara kritiknya menganggap Pendidikan Islam hanya berkutat pada masalah kognitif yang menggiring pelajar masuk dalam pusaran ruang hampa tanpa makna. Para pelajar hanya “dicekokin” arti kejujuran tapi tidak bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari, mereka hanya diajari arti perdamaian tapi suka tindak kekerasan. Dunia pendidikan belum sampai pada ranah psikomotorik dan afektif.

Dalam situasi seperti ini, menurut Dr. Nifasri Muh, MA, “banyaknya kritik social pada dunia pendidikan yang mengaggap pendidikan hanya berkutat pada kognitif harus disambut positif dengan cara mengevaluasi diri dan mengoptimalkan PAI” Jelas Kepala Subdit PAI SMP Direktorat Pendidikan Agama Islam Dirjen Pendis Kemenag RI

Maka untuk menjawab segala persoalan yang mencuat kepermukaan tersebut perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh di dalam Pendidikan Agama Islam agar dapat mengidentifikasi segala penyakit dan tentu nantinya tepat dalam memberikan obat. Nah, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) PAI menjadi salah satu cara untuk melakukan evaluasi PAI di sekolah secara nasional. “salah satu fungsi USBN PAI itu untuk pemetaan” papar Nifasri

Dengan diadakannya USBN PAI sebagai bahan pemetaan dan meningkatkan pamor PAI dimata masyarakat, maka ini sesungguhnya bagian dari upaya meningkatkan Pendidikan Agama Islam disekolah yang memiliki basis massa peserta didik sangat besar. Dalam data Departemen Pendidikan Nasional terdapat 255.790 sekolah umum dengan jumlah siswa beragama muslim dari SD-SMA 35,975,134 orang. Besarnya angka tersebut mengindikasikan besarnya garapan strategis Pendidikan Agama Islam di sekolah dan sekaligus tantangan bagi pemerintah. “jumlah garapan yang besar menjadikan PAI di sekolah strategis sekaligus menjadi tantangan tersendiri”imbuhnya

USBN PAI 2011/2012 diharapakan memacu dan memicu para siswa untuk dapat memahami dan menjalankan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik itu yang berkaitan dengan hubungannya dengan Allah SWT, diri sendiri maupun dengan sesama manusia dan lingkungan. “dalam USBN itu ada tiga aspek penting, yakni, aspek kognitif, psikomotorik dan afektif”. Terangnya.

Nifasri menjelaskan bahwa, aspek kognitif diukur melalui ujian tulis, sedangkan untuk aspek psikomotorik diukur melalui tes perbuatan atau praktik, seperti membaca al-quran, shalat dan sebagainya. Sedangkan dalam mengujikan aspek afektif dilakukan dengan cara pengamatan terhadap pengamalan akhlak peserta didik oleh guru PAI di sekolah masing-masing. Dengan cara ini diharapkan ketiga aspek tersebut dapat terpenuhi semua walaupun sesungguhnya proporsi masing-masing aspek berbeda. Untuk jenjang SMP Al-quran dan hadist 30%, Keimanan 20%, Fiqh 10%, Tarikh 10% dan akhlak 30%. Untuk al-quran dan hadist menjadi bagian yang paling besar presentasenya bersamaan dengan akhlak. Ini menunjukan bahwa PAI bukan hanya berkutat pada hafalan namun juga sangat menitik beratkan pada akhlak siswa. “masalah akhlk menjadi bagian penting dalam Pendidikan Agama Islam”kata Nifasri

Sumber: http://pendis.kemenag.go.id/kerangka/pais.htm