BANDUNG, DITPAIS – Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan agama Islam. Diantara persaoaln yang perlu mendapat perhatian serius adalah sistem pembelajarn PAI di sekolah. proses pembelajaran yang ada hanya berkutat pada aspek kognitif saja maka dengan seperti ini siswa tidak mampu mempraktekan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Maka wajar kemudian jika kekerasan yang melibatkan pelajar masih marak terjadi. Demikian papar Dr. Agus Purwanto, Dosen UIN Jogjakarta dalam acara Sosialisasi Standar Nasional Pendidikan Agama Islam yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama di Bandung (23/9)

Selain masalah kognitif an-sich masalah motivasi peserta didik dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam di sekolah relatif minim sehingga siswa lebih tertarik dengan mata pelajaran lain dibanding agama. Masalah sarana dan prasarana juga menjadi bagian dari masalah yang ada dalam Pendidikan Agama Islam. Dengan minimnya sarana dan prasaran pendukung bagi pembelajaran PAI disekolah membuat PAI tidak dapat diajarkan dengan maksimal. Selanjutnya masalah tenaga pendidik. Masih banyak tenaga pendidik atau guru agama di sekolah yang belum memenuhi standar kualifikasi sebagai guru agama Islam. Sehingga kualitas pembelajaran menjadi kurang bermutu. Dan terakhir tidak sinkronnya materi dengan jam pelajaran. Materi pendidikan agama begitu banyak sedangkan jam pelajarannya sangat sedikit. Inilah problem-problem dalam Pendidikan Agama Islam di sekolah yang harus diatasi. Tukasnya

Sementara itu, Dr. Imam Tholkhkah, MA, Direktur Pendidikan Agama Islam Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag mengatakan bahwa, banyak kritik yang diasmapaikan masayarakat kepada Pendidikan Agama Islam. Kritik-kritik tersebut terus kita kaji untuk mencari jalan keluar. Ada beberapa kritik yang paling menonjol diantaranya, pertama yang berkaiatan dengan akhlak. Masih maraknya para pelajar yang melakukan tindak kekerasan seperti tawuran. Minimnya sikap sopan santun dikalangan pelajar. Narkoba dan minum-minuman keras yang telah masuk dikalangan pelajar dan budaya seks bebas antara pelajar. Selain itu, masalah wawasan keagamaan yang inklusif. Ada beberapa pelajar yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan atau gerakan radikalisme. Jelasnya

Kritik kedua, lanjutnya ialah berkaiatan dengan kemampuan tamatan sekolah yang belum bisa baca al-quran. Apalagi untuk menulis dan tahu artinya.

Sedangkan Kritik ketiga yang menganggap tamatan sekolah belum bisa melakukan kegiatan ibadah ritual seperti shalat.

Dan kritik keempat ialah tamatan sekolah dari tingkat Sekolah dasar sampai Menengah masih minim pengetahuan agama Islamnya. Empat kritik inilah yang menjadi pendorong lahirnya Standar nasional Pendidikan Agama Islam di sekolah.

Empat kritikan ini sesungguhnya sudah lama dan seakan laten, maka berangkat dari kritik dan keprihatinan itulah dirumuskan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam sebagai pegangan atau pedoman.

Dalam standar Nasional Pendidikan agama Islam memiliki dua hal yang menjadi pokok pembahasan sekaligus dua pokok ini untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada dalam PAI yakni kompetensi pengamalan dan kompetensi ekstarkulikuler. imbuhnya.

Sumber dicopy dari: http://pendis.kemenag.go.id/kerangka/pais.htm