oleh Dzikir dan Doa

Al ‘Adl (Maha Adil)

Allah Maha Adil dalam segala hal terhadap apa yang diperbuat hamba-Nya. Berbeda dengan manusia. Mungkin ketika menjadi hakim atau wasit dalam suatu pertandingan, seseorang tidak jarang memihak golongan atau keluarganya. Banyak hal yang bisa mempengaruhi manusia sehingga manusia tidak bisa benar-benar adil. Namun, keadilan Allah pastilah adil yang seadil-adilnya. Dan, Allah selalu menyuruh hamba-Nya untuk berbuat adil.

Ada Asmaul Husna lain yang artinya sama, yaitu Al Muqsith (Maha Adil). Namun, Maha Adil Allah disini lebih adil kepada manusia.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan… [Q.S. An Nahl: 90]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al ‘Adl:

1. Menghindari perbuatan yang tidak adil dan keluar dari yang telah digariskan Allah.

2. Berbicara dan berbuat dengan penuh keadilan meskipun dirasakan pahit serta dapat merugikan diri kita sendiri ataupun keluarga.

3. Menyadari bahwa keadilan dapat mendekatkan diri pada takwa.

4. Adil terhadap diri sendiri dengan cara mengendalikan hawa nafsu.

Kesimpulan:

Allah itu adil kepada siapa dan apa saja, baik manusia, makhluk lain, maupun alam ciptaan-Nya. Segala yang diciptakan Allah sudah ditetapkan dengan adil. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, dan sebagainya.

Al Ahad (Maha Esa)

Allah tidak berputra dan tidak diputrakan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa menyamai-Nya. Dzat, sifat, dan perbuatan Allah esa. Dialah satu-satu sesembahan yang wajib kita sembah. Tidak ada sesembahan lain selain Allah Yang Maha Esa. Segala ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” [Q.S. Al Ikhlas: 1]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Ahad:

1. Harus percaya bahwa Allah hanya satu dan tak ada sesembahan lain selain Allah.

2. Harus beribadah hanya demi Allah dan untuk mencari ridha Allah.

3. Tidak boleh menghambakan diri kita kepada selain Allah.

Kesimpulan:

Allah Al Ahad berarti Allah Maha Esa. Allah adalah satu dan tidak ada Tuhan selain Dia. Jika memang ada Tuhan selain Dia, akan rusak seluruh alam semesta. Hanya Dia yang wajib kita sembah.

Al Awwal (Maha Awal)

Allah ada paling awal. Allah ada sebelum segala sesuatu ada. Keberadaan Dzat Allah tidak ada yang mendahului dan tidak didahului oleh sesuatu pun. Segala sesuatu yang ada di dunia ini semata-mata bersumber kepada Allah. Misalnya, meja dan kursi tentu ada yang membuatnya, yaitu tukang meja dan kursi. Namun, bahannya tentu dari kayu yang berasal dari pohon, sedangkan pohon atau tumbuh-tumbuhan adalah ciptaan Allah.

 هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Q.S. Al Hadid: 3]

 Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Awwal:

1. Awal dalam beramal agar menjadi contoh bagi yang lain.

2. Berada di barisan terdepan ketika Shalat.

3. Menjadi pelopor dalam kebaikan.

Kesimpulan:

 Dzat Allah itu dahulu, tidak ada yang mendahului. Dzat Allah itu awal, tidak ada yang mengawali. Dia ada sebelum segala

sesuatu ada.

Al Aakhir (Maha Akhir)

Allah akan masih tetap ada setelah semua makhluk-Nya binasa. Ketika kiamat nanti, alam semesta akan musnah dan mati. Yang tetap ada hanyalah Allah. Hanya kepada Allah semua makhluk ciptaan-Nya kembali karena sesungguhnya Allah Maha Akhir.

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Q.S. Al Hadid: 3]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Aakhir:

1. Melakukan segala ibadah dari awal hingga akhir hanya kepada Allah.

2. Menjalankan kewajiban kepada Allah hingga ajal.

3. Menyadari semua manusia akan mati dan dimintai pertanggungjawaban.

4. Tidak menunda-nunda tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggungjawab kita.

Kesimpulan:

Allah akan tetap ada setelah segala sesuatu berakhir sesuai dengan kehendak-Nya. Dia akan tetap kekal.

Al ‘Afuuw (Maha Pemaaf)

Allah mengikis habis dosa dan kesalahan hamba-Nya. Dia selalu membuka pintu maaf. Allah tidak pernah bosan mengampuni orang-orang yang bersalah meskipun mereka telah melakukan kesalahan berulang kali.

Allah memberi maaf tidak hanya kepada yang meminta maaf. Namun, Allah sudah memaafkan kesalahan orang yang belum meminta maaf.

Memaafkan dalam hal ini adalah menghapusnya sehingga tidak ada lagi.

ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. [Q.S. Al Hajj: 60]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al ‘Afuww:

1. Selalu membuka pintu maaf selebar-lebarnya.

2. Memaafkan kesalahan orang lain sebelum yang bersalah meminta maaf.

3. Tetap berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah kepada kita.

4. Tidak berbuat kesalahan agar tidak mengecewakan orang lain.

Kesimpulan:

Allah akan tetap memaafkan kesalahan hamba-Nya meskipun dia belum meminta maaf. Bahkan, kesalahan-kesalahan yang lalu akan dihapus-Nya sehingga tidak ada lagi. Hal itu membuktikan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Al ‘Aliyy (Maha Tinggi)

Allah mempunyai kedudukan yang tinggi di atas semua kedudukan yang ada di dunia ini. Allah itu tinggi dalam Dzat, sifat, dan kedudukan-Nya. Kedudukan Allah tidak dapat diukur oleh manusia. Tidak ada yang menandingi dan menyamai tingginya kedudukan serta Dzat Allah.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar. [Q.S. Al Hajj: 62]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al ‘Aliyy:

1. Rajin dan tekun beribadah kepada Allah. Barangsiapa dekat dengan Allah, kedudukannya akan makin tinggi.

2. Selalu yakin bahwa Allah adalah yang tertinggi sehingga hati kita tunduk di hadapan-Nya dan tidak sombong.

3. Selalu merendahkan hati di hadapan Allah karena kita memang rendah di hadapan Allah.

4. Bersemangat dalam mengerjakan pekerjaan mulia, dan menjauhi hal-hal yang remeh.

Kesimpulan:

Allah itu Al ‘Aliyy atau Maha Tinggi. Tak ada satu pun yang dapat menandingi ketinggian Allah. Dengan kekuasaan dan kedudukan Allah yang Maha Tinggi, akal manusia tidak dapat menjangkau.

Al ‘Azhiim (Maha Agung)

Allah Maha Agung dalam segala sesuatu: Maha Agung Dzat-Nya, sifat-Nya, rahmat-Nya, kekuasaan-Nya, pemberian-Nya, ampunan-Nya, keadilan-Nya, dan sebagainya.

Dialah Allah, Dzat yang Maha Agung (besar) di seluruh alam ini. Tidak ada keagungan yang melebihi keagungan Allah. Keagungan Allah tidak dapat diukur dengan panca indera. Keagungan yang ada di alam ini juga berkat keagungan Allah. Karena keagungan Allah-lah, seluruh alam tunduk di hadapan-Nya. Ada Asmaul Husna yang lain yang artinya hampir sama, yaitu Al Kabiir (Maha Besar). Namun, Al Kabiir adalah Maha Besar Dzat-Nya. Sedangkan Al ‘Azhiim adalah Maha Agung Dzat dan sifat-Nya.

وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

…Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar. [Q.S. Al Baqarah: 255]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al ‘Azhiim:

1. Dapat memperlihatkan kepada orang lain tentang kebesaran Allah.

2. Tidak menyekutukan Allah karena percaya kepada keagungan Allah.

3. Bersyukur setiap mendapat ilmu dan percaya bahwa itu karena keagungan Allah.

4. Selalu mengagungkan Allah dengan cara bertasbih, bertahmid, dan bertahlil.

Kesimpulan:

Allah Al ‘Azhiim berarti Allah Maha Agung. Alam dan seisinya ini tercipta, tersusun rapi, serta terpelihara dengan baik karena keagungan dan kekuasaan Allah. Kekuasaan dan keagungan Allah meliputi semua ciptaan-Nya sepanjang zaman.

Al Baa’its (Maha Membangkitkan)

Allah akan membangkitkan dan menghidupkan segala yang telah mati. Allah membangkitkan manusia dari kubur setelah hari kiamat nanti untuk menilai hasil amalan kita selama hidup di dunia. Allah juga membangkitkan makhluk dari tidur dan membangkitkan semangat dalam diri manusia.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Dan sungguh, (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. [Q.S. Al Hajj: 7]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Baa’its:

1. Menyadari bahwa orang yang hidup pasti akan mati.

2. Beramal sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

3. Membangkitkan semangat hidup dan membantu orang lain supaya menjadi lebih baik.

4. Membangkitkan jiwa sehingga hidup dengan aqidah yang benar, ilmu yang luas, dan semangat juang yang membara.

Kesimpulan:

Allah Maha Membangkitkan, yaitu membangkitkan dan menghidupkan lagi orang-orang yang telah mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Al Bashiir (Maha Melihat)

Allah selalu melihat segala yang terjadi di dunia ini. Allah melihat perbuatan hamba-Nya yang selalu memohon dan berdoa kepada-Nya. Meskipun manusia bersembunyi di tempat yang tidak diketahui, Allah pasti melihatnya. Allah melihat segala sesuatu bukan dengan indra seperti manusia atau makhluk-Nya. Allah melihat sesuatu berdasar pengetahuan-Nya. Segala yang lahir dan batin, yang nyata dan yang gaib, pasti dilihat oleh Allah. Tidak ada satu perbuatan pun yang luput dari pandangan Allah meskipun perbuatan tersebut coba disembunyikan.

قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [Q.S. Al Isra’: 96]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Bashiir:

1. Berhati-hati dalam berbuat dan bertingkah laku.

2. Menjaga perbuatan kita di mana saja dan kapan saja karena kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

3. Tidak mempergunakan panca indra yang Allah berikan untuk berbuat sesuatu yang dilarang-Nya.

4. Menggunakan mata untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam raya.

Kesimpulan:

Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya di dunia, baik terang-terangan maupun yang disembunyikan.

Al Barr (Maha Baik)

Allah selalu berbuat baik kepada yang dikehendaki-Nya. Dia memberi berbagai macam anugerah dan nikmat untuk kemaslahatan makhluk. Pemberian-Nya tidak terhitung, baik kepada makhluk yang taat maupun yang durhaka. Allah Al Barr juga berarti berbuat dengan penuh kebaikan. Segala yang dilakukan Allah adalah untuk kebaikan makhluk-Nya.

إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan, Maha Penyayang. [Q.S. At Thur: 28]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Barr:

1. Berbakti kepada kedua orangtua.

2. Bersikap dermawan.

3. Banyak bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

4. Banyak beramal.

Kesimpulan:

Semua yang kita terima merupakan wujud kebaikan Allah. Apa yang diberikan Allah tidak akan pernah dihitung.

Al Baathin (Maha Tersembunyi)

Allah tidak terlihat, tersembunyi dari pandangan mata makhluk-Nya. Allah tersembunyi, baik Dzat maupun sifat-Nya. Penglihatan kita tak akan mampu melihat Allah. Sebenarnya, Allah kelihatan dan tampak nyata. Karena nyata dan jelas, mata dan pikiran kita silau sehingga tidak mampu memandang-Nya. Meskipun Allah tidak terlihat oleh kedua mata kita, sungguh terasa di dalam hati kalau kita mau membuka mata hati.

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Q.S. Al Haadid: 3]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Baathin:

1. Yakin bahwa Allah selalu bersama dan mengawasi kita.

2. Meninggalkan dosa-dosa yang bersifat batiniah (berbohong, curang).

3. Melakukan kebaikan yang tersembunyi dengan lebih baik daripada yang terlihat (sedekah, infaq).

4. Tidak menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah.

Kesimpulan:

Allah tersembunyi dari pandangan mata makhluk-Nya. Hanya mata hati kita yang mampu melihat Allah, yaitu dari ciptaan-ciptaan-Nya.

Dzul Jalaali wal Ikraam (Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan)

Allah adalah pemilik segala kebesaran dan kemuliaan. Kebesaran Allah ditunjukkan dengan sifat-Nya yang lain, yaitu Maha Kaya, Maha Suci, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan lain-lain. Kemuliaan Allah ditunjukkan dengan sifat-sifat Maha Pemurah, Maha Luas anugerah-Nya, Maha Memberi, dan lain-lain. Semua sifat yang menunjukkan kemuliaan dan kebesaran hanya milik Allah. Semua kemuliaan dan kebesaran berasal dari Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki kebesaran dan kemuliaan jika Allah tidak mengizinkan.

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Maha Suci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. [Q.S. Ar Rahman: 78]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Dzul Jalaali wal Ikraam:

1. Tidak menyia-nyiakan kemuliaan yang diberikan Allah.

2. Menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela.

3. Selalu memuliakan Allah dengan menyebut dan mengagungkan nama-Nya.

4. Mendekatkan diri dan bersandar kepada Allah dengan rendah hati.

Kesimpulan:

Segala kebesaran dan kemuliaan adalah kepunyaan Allah semata. Allah memuliakan manusia dengan memberikan akal. Jadi, manusia harus selalu berfikir untuk memuliakan-Nya.

Al Fattaah (Maha Pembuka)

Allah membuka pintu rezeki, hati, pikiran (memberi kecerdasan), dan rahmat. Allah membuka pintu-pintu kebaikan untuk manusia yang sebelumnya tertutup. Pintu-pintu itu meliputi materi dan non materi, baik rezeki berupa harta maupun ketertutupan hati dari petunjuk Allah. Allah juga membukakan semua kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Allah akan membuka petunjuk bagi siapa saja yang meminta petunjuk-Nya.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui, selain Dia… [Q.S. Al An’am: 59]

Meneladani sifat Al Fattaah:

1. Memohon kepada Allah agar selalu dibukakan pintu kebaikan.

2. Rajin belajar agar Allah membukakan jalan menjadi anak yang pintar.

3. Mengharap kepada Allah agar dibukakan pintu rahmat-Nya.

4. Mencari jalan keluar bagi orang yang mempunyai kesulitan.

Kesimpulan:

Allah membukakan jalan keluar bagi hamba-Nya yang mengalami kesulitan. Dia membukakan rezeki bagi hamba-Nya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan bagi hamba-Nya yang mau memohon kepada-Nya.

Al Ghafuur (Maha Pengampun)

Segala ampunan hanya datang dari Allah. Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya walaupun mereka telah melakukan kesalahan berkali-kali.

Al Ghafuur juga berarti Allah menutupi kesalahan atau dosa hamba-Nya di akhirat, yaitu dosa orang-orang yang memohon ampunan Allah.

Dengan sifat-Nya ini, semua makhluk masih tetap diperhatikan oleh Allah meskipun dosanya sebesar gunung, seluas lautan.

إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

…Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. [Q.S. Al Hajj: 60]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Ghafuur:

1. Memaafkan kesalahan orang lain.

2. Selalu memohon ampun kepada Allah.

3. Menjaga hati dari sifat dendam kepada orang lain.

4. Menutupi kekurangan orang lain.

Kesimpulan: Allah akan menutupi dosa hamba-Nya sebesar dan sebanyak apa pun asalkan mereka mau memohon ampun dan bertobat kepada-Nya.

Al Hafiizh (Maha Memelihara)

Allah menjaga dan memelihara segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Allah Maha Memelihara segala sesuatu agar tidak punah atau hilang. Mewujudkan sesuatu kemudian memeliharanya merupakan sifat Al Hafiizh Allah. Allah juga menjaga dan memelihara manusia dari godaan setan dengan cara memberi petunjuk kepada manusia berupa Al Qur’an.

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Dan tidak ada kekuasaan (iblis) terhadap mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya akhirat dan siapa yang masih ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. [Q.S. Saba’: 21]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Hafiizh:

1. Membantu teman atau saudara yang dalam kesulitan dan kesusahan.

2. Menjaga hati dari penyakit kikir, iri, dengki, hasad, dan sombong.

3. Selalu menjaga kelestarian alam.

4. Selalu sadar bahwa setiap saat Allah dan malaikat selalu bersama kita untuk mengawasi dan memelihara.

Kesimpulan:

Allah memelihara sesuatu dari kepunahan dan kemusnahan. Tidak ada satu pun yang luput dari pemeliharaan dan penjagaan Allah di alam semesta ini. Allah menjaga dari kerusakan, kehancuran, dan kekacauan. Kadang-kadang, manusia sendirilah yang tidak dapat menjaga alam ini dengan baik.

Al Hakam (Maha Menetapkan Hukum)

Allah Maha Memutuskan kebenaran dari kebatilan. Dia juga menetapkan siapa yang taat dan durhaka, serta memberi balasan setimpal bagi setiap usaha sesuai dengan ketetapan-Nya.

Hukum yang telah ditetapkan Allah itu pasti, tidak ada orang atau makhluk yang dapat mengubahnya. Apabila seseorang takut kepada Allah, dia akan memutuskan sesuatu secara cermat berdasar hukum dan ketentuan Allah. Ia yakin dengan sepenuh hati menjalani apa yang telah digariskan Allah. Ia tidak pernah mempunyai kecenderungan untuk memihak kawan atau keluarganya.

Allah mempunyai Asmaul Husna lain yang artinya mirip, yaitu Al Hakiim. Namun, Al Hakiim lebih ke kebijakan, yaitu Allah Maha Bijaksana dalam menentukan atau berbuat sesuatu kepada hamba-Nya.

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلا

Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu secara rinci?… [Q.S. Al An’am: 114]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Hakam:

1. Selalu berpegang pada ketentuan Allah dalam memutuskan segala sesuatu.

2. Memutuskan segala sesuatu dengan bijak dan penuh pertimbangan dengan tidak melanggar ketentuan dari Allah.

3. Selalu menjalankan hukum Allah dengan ikhlas.

4. Tidak bergeming terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi penetapan hukum.

Kesimpulan:

Allah menetapkan hukum dengan pasti karena Allah Al Hakam, Maha Menetapkan Hukum. Hukum Allah berlaku di dunia dan di akhirat serta kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan, hukum yang ditetapkan manusia sering dipengaruhi hal lain sehingga hanya berlaku di dunia dan kepada manusia saja.

Al Hakiim (Maha Bijaksana)

Allah memiliki pengetahuan paling hebat tentang segala sesuatu sehingga Dia bijaksana dalam mengatur dan menentukan segala sesuatu. Allah senantiasa bijaksana di dalam keputusan-Nya. Ke-Mahabijaksana-an Allah sangat sempurna. Dengan pengetahuan-Nya, Dia menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya dan memutuskan sesuatu dengan adil.

Perhatikan ke-Mahabijaksana-an Allah dalam penciptaan mata kita. Allah menjadikan mata kita terletak di bagian kepala, bagaikan lampu di atas menara. Dengan demikian, kita dapat melihat ke segala arah dengan mudah. Bayangkan jika Allah meletakkan mata kita di bagian tengah badan, misalnya di dada atau di punggung. Kita tentu sulit melihat ke bawah, ke atas, atau ke samping. Semua itu tentu akan merepotkan kita.

 وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

 Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. [Q.S. Al An’am: 18]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Hakiim:

1. Mengendalikan hawa nafsu karena hawa nafsu bisa mendorong untuk berbuat zalim.

2. Selalu berbicara sesuai dengan yang diamalkan (tidak menambah-nambahi agar dipuji).

3. Selalu arif dan bijak dalam menanggapi sesuatu.

4. Memiliki keahlian atau pengetahuan, paling tidak dalam bidang tertentu.

Kesimpulan:

Allah sudah memperhitungkan segala yang diciptakan-Nya. Allah selalu tepat dalam menciptakan makhluk-Nya.

Al Haliim (Maha Penyantun)

Allah Maha Penyantun adalah Allah yang selalu memberi kesempatan kepada orang yang berbuat salah untuk menyadari kesalahannya, kemudian bertobat kepada-Nya. Allah sangat sabar dan santun kepada hamba-hamba-Nya. Meskipun Allah mengetahui perbuatan dosa hamba-Nya, Dia masih menunda hukumannya. Dia selalu memberi ampunan jika orang tersebut bertobat, serta tetap memberikan anugerah-Nya.

لا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. [Q.S. Al Baqarah: 225]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Haliim:

1. Bersikap penuh kasih sayang kepada semua makhluk Allah.

2. Mudah memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita.

3. Meninggalkan orang yang mengundang amarah atau membuat kita marah.

4. Tidak memutus hubungan silaturrahim dan bantuan kepada orang yang berbuat salah terhadap kita.

Kesimpulan:

Allah sangat penyantun kepada hamba-Nya. Allah tidak langsung menyiksa hamba-Nya yang berbuat salah, tetapi menangguhkan agar hamba-Nya berkesempatan untuk menyadari kesalahannya dan memohon ampunan Allah.

Al Hamiid (Maha Terpuji)

Terpujinya Allah tercermin dari seluruh ciptaan-Nya. Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik sesuai kehendak-Nya. Hanya Allah yang pantas dipuji. Tidak ada makhluk yang pantas dipuji karena pasti memiliki cacat dan cela.

Memuji Allah menunjukkan pengakuan seorang hamba dalam memuliakan dan berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun ditimpa musibah, seorang hamba tetap wajib memuji-Nya karena dalam musibah tersebut ada pelajaran yang berharga.

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” [Q.S. Luqman: 12]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Hamiid:

1. Senantiasa memuja dan memuji keagungan Allah atas karunia-Nya kepada kita.

2. Selalu mengucap tahmid (Alhamdulillahi rabbil ‘alamin) dalam segala kesempatan.

3. Tidak berlebihan dalam memuji seseorang.

4. Mengarahkan pujian hanya kepada Allah.

Kesimpulan:

Segala pujian adalah milik Allah. Hanya Allah yang pantas dipuji. Segala keindahan dan kebaikan yang dimiliki makhluk menunjukkan sifat Al Hamiid Allah.

Al Hasiib (Maha Pembuat Perhitungan dan Maha Mencukupi)

Allah akan memperhitungkan semua amal baik dan amal buruk manusia, serta menetapkan balasannya di akhirat. Allah juga membuat penghitungan tentang perbuatan dan niat-niat hamba-Nya.

Setiap hidup di dunia, manusia diberi kesempatan untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Mereka juga diberi kesempatan untuk memperbaiki perbuatannya yang buruk karena di akhirat kesempatan itu tidak ada lagi. Setiap orang tinggal menerima balasannya saja. Al-Hasiib juga bermakna Allah mencukupi siapa pun yang mengandalkan-Nya.

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. [Q.S. Al Ahzab: 39]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al-Hasiib:

1. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

2. Memanfaatkan kekayaan untuk kebaikan.

3. Melakukan semua penghitungan dengan teliti dan cepat.

4. Merasa berkecukupan dengan apa yang dianugerahkan Allah.

Kesimpulan:

Segala amal yang dilakukan oleh hamba-Nya akan selalu dihitung oleh Allah, tanpa ada sedikit pun yang tercecer. Penghitungan Allah pasti dan tepat, serta tidak ada yang dirugikan.

Al Haqq (Maha Benar)

Allah pasti ada. Dia tidak mengalami perubahan dan tidak binasa. Oleh karena itu, hanya Dia yang berhak disembah. Allah Maha Benar karena segala yang bersumber dari-Nya pasti benar.

Kebenaran yang hakiki hanya milik Allah. Dia benar dalam segala hal. Berbeda dengan manusia yang sering berbuat tidak benar. Kadang kita merasa diri kita benar, tetapi sebenarnya salah. Sebaliknya, kita mengira teman kita salah, tetapi ternyata benar. Manusia memang memiliki keterbatasan. Jadi, jangan merasa diri kitalah yang paling benar.

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya maka tidak ada setelah kebenaran itu, melaikan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)? [Q.S. Yunus: 32]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Haqq:

1. Berucap dan bertindak dengan benar.

2. Menggunakan akal dan mata untuk memahami ayat-ayat Allah karena yang bersumber dari-Nya pasti benar.

3. Selalu mengingat Allah karena Dia Maha Benar.

4. Selalu membela yang benar.

Kesimpulan:

Kebenaran Allah meliputi segala hal, baik Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun wujud-Nya. Kebenaran Allah adalah hakiki dan mutlak.

Al Hayy (Maha Hidup)

Dialah sumber kehidupan dari segala yang hidup. Tidak mungkin ada kehidupan di alam ini jika penciptanya tidak ada atau mati. Dia memberi dan mencabut kehidupan dari yang hidup. Allah tidak mengalami kematian karena Dia abadi, bahkan tidak mengalami kantuk atau tidur. Kita hidup karena dianugerahi kehidupan oleh Sang Maha Hidup, yaitu Allah.

هُوَ الْحَيُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dialah yang hidup kekal, tidak ada Tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. [Q.S. Al Mu’min: 65]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Hayy:

1. Berusaha agar selalu bermanfaat bagi orang lain.

2. Menyiapkan bekal akhirat dengan sebaik-baiknya.

3. Hendaknya kita memiliki pengetahuan, kesadaran, dan perasaan karena hidup ditandai dengan tiga hal tersebut.

4. Tidak mengganggu hak-hak orang lain dengan cara batil.

Kesimpulan:

Kehidupan Allah kekal abadi selamanya, tidak akan mengalami kematian.

Al Jaami’ (Maha Mengumpulkan)

Allah Maha Mengumpulkan seluruh makhluk di muka bumi. Allah mengumpulkan ayah dan ibu kita dalam satu keluarga. Allah telah mengumpulkan kita dengan teman-teman kita dalam satu sekolah. Allah telah mempertemukan kita dengan orang lain dalam satu masyarakat, satu pekerjaan, satu kegemaran, satu organisasi, dan perkumpulan lainnya.

Di akhirat kelak, Allah Maha Mengumpulkan kita semua di padang mahsyar yang sangat panas dengan amal masing-masing untuk menerima pembalasan dari Allah. Kemudian Allah akan mengumpulkan kita di tempat yang abadi, yaitu di surga atau neraka. Surga adalah tempat berkumpulnya orang yang gemar beramal shaleh, sementara neraka adalah tempat berkumpulnya para pendosa.

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. [Q.S. Ali Imran: 9]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Jaami’:

1. Hidup dengan sesama manusia dan makhluk Allah yang lain secara baik.

2. Memilih teman dan sahabat yang bisa membawa pada kebaikan.

3. Memperbanyak silaturrahim.

4. Tidak berbuat sombong terhadap makhluk Allah di dunia ini, tetapi saling bekerja sama untuk menggapai ridha Allah.

Kesimpulan:

Allah Maha Mengumpulkan seluruh makhluk, baik di dunia maupun di akhirat. Kita berkumpul dan bertemu karena Allah. Di akhirat kita juga akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita.

Al Jaliil (Maha Memiliki Kebesaran)

Allah Maha Agung dari segala yang tidak wajar bagi-Nya. Misalnya, bodoh, tuli, dan buta. Dia tidak lemah, tidak butuh siapa pun. Dia bukan fisik seperti manusia. Dia Yang Maha Luhur sifat-sifat-Nya.

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. [Q.S. Ar Rahman: 27]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Jaliil:

1. Menyandang sifat-sifat mulia serta budi pekerti luhur.

2. Selalu tampil indah dan bersih, baik lahir maupun batin.

3. Selalu mengagungkan Allah dengan zikir.

4. Selalu menempatkan Allah sesuai kedudukan-Nya dan menjauhkan diri dari kedurhakaan.

Kesimpulan:

Allah Al Jaliil berarti Allah Maha Luhur. Namun, dapat juga diartikan Allah Maha Sempurna. Kesempurnaan Allah tampak dari sifat-sifat-Nya dan ciptaan-Nya.

Al Kabiir (Maha Besar)

Allah Maha Sempurna Dzat-Nya. Dzat-Nya kekal abadi. Dia adalah sumber wujud dari semua wujud.

Karena kebesaran Allah, semua yang ada di langit dan di bumi tunduk di bawah kekuasaan Allah. Al Kabiir juga berarti bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.

ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah dipersekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi, Maha Besar. [Q.S. Al Mukmin: 12]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Kabiir:

1. Memiliki cita-cita besar untuk membela agama Islam.

2. Selalu mengagungkan nama-Nya yang besar melalui ibadah dan amal shaleh.

3. Tidak congkak dan sombong.

4. Berusaha meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Kesimpulan:

Allah berhak memerintah segala sesuatu yang ada di alam dan seisinya ini untuk tunduk di bawah kekusaan-Nya. Hanya Allah yang mempunyai kekuasaan yang begitu besar dari segala-galanya.

Al Kariim (Maha Mulia)

Allah selalu menebarkan kasih sayang dan kemuliaan-Nya. Allah senantiasa memberi sesuatu secara berlimpah ruah kepada hamba-Nya. Dia tidak memikirkan berapa banyak yang Dia berikan kepada hamba-Nya. Allah selalu memberi tanpa perhitungan. Oleh karena itu, Allah disebut Al Kariim. Karena kedermawanan-Nya pula, Allah disebut Maha Mulia.

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

…Barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia. [Q.S. An Naml: 40]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Kariim:

1. Selalu memberi dengan ikhlas.

2. Tidak bersikap kikir.

3. Menjadi peramah dan pemurah.

4. Menghiasi diri dengan ketakwaan agar dapat meraih kemuliaan.

Kesimpulan:

Allah Yang Maha Mulia selalu memberi tanpa pamrih. Oleh karena itu, Allah juga disebut Maha Dermawan. Kemuliaan diri kita akan sangat berharga jika dihiasi dengan akhlak mulia.

Al Khabiir (Maha Mengetahui)

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Segala pengetahuan hanya milik Allah dan pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari Allah. Pengetahuan manusia terbatas, sedangkan pengetahuan Allah jauh melebihi pengetahuan manusia. Allah mengetahui segala sesuatu yang tampak dan yang tidak tampak serta mengetahui apa yang tidak diketahui manusia dengan penuh ketelitian.

Ada Asmaul Husna yang artinya hampir sama, yaitu Al ‘Aliim (Maha Mengetahui). Namun, Al ‘Aliim lebih ke pengetahuan Allah terhadap semua yang dikerjakan hamba-Nya atau segala sesuatu yang terjadi di dunia.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلا رَسُولِهِ وَلا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. [Q.S. At Taubah: 16]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Khabiir:

1. Menghapus segala macam keburukan di dalam hati.

2. Tidak putus asa dalam mencari ilmu pengetahuan.

3. Belajar dengan tekun dan mau mengamalkan ilmu yang diperoleh.

4. Menempuh pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan cita-citanya.

Kesimpulan:

Allah Maha Mengetahui segalanya karena Dialah yang menciptakan pengetahuan. Manusia tidak akan mampu mendekati ilmu Allah. Kemampuan dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Ada pepatah mengatakan bahwa ilmu Allah seluas lautan, sedangkan ilmu manusia hanya setetes air. Itulah yang membedakan pengetahuan Allah dengan pengetahuan manusia.

Al Lathiif (Maha Lembut)

Allah Maha Lembut, tersembunyi dan tertutup ketika melimpahkan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Allah memperlakukan hamba-Nya dengan penuh kelembutan. Dia selalu menyuruh hamba-Nya sesuai dengan kesanggupannya.

Allah tidak menyukai kekerasan atau pun kerusakan. Dia akan mendekati dan memperlakukan hamba-hamba-Nya yang patuh dan taat dengan lemah lembut. Allah selalu menghendaki kemaslahatan dan kebaikan serta memberi kemudahan kepada makhluk-Nya.

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ…

“…Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Q.S. Yusuf: 100]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Lathiif:

1. Selalu bertindak dan berbuat dengan lemah lembut.

2. Mengatasi segala persoalan dengan kepala dingin.

3. Menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda.

4. Tidak menanggapi sesuatu yang tidak dikehendaki dengan jalan atau cara yang kasar.

Kesimpulan:

Allah memberikan rezki kepada hamba-Nya dengan sembunyi-sembunyi tanpa diketahui asalnya oleh hamba yang menerima-Nya. Allah senantiasa mendekati hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan karena Allah tidak menyukai segala bentuk kekerasan.

Allah menyelamatkan manusia dari berbagai bencana dan musibah dengan cara yang halus dan lembut. Manusia kadang tidak merasakannya, bahkan ada yang dengan sengaja tidak mau merasakannya.

Maalikul Mulk (Maha Memiliki Kerajaan)

Kerajaan Allah meliputi dunia (langit dan bumi) serta akhirat. Semua kehendak Allah pasti terlaksana di wilayah kerajaan-Nya. Dia mengatur kerajaan sebagaimana yang Dia kehendaki. Tak seorang pun bisa menolak ketetapan-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu, mengakhiri keberadaan sebagian makhluk, tanpa siapa pun bisa melarang. Dia juga tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki… [Q.S. Ali Imran: 26]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Maalikul Mulk:

1. Tidak boleh merusak atau mengancurkan bumi karena bumi adalah kerajaan Allah.

2. Menjadi pemimpin yang dapat mencegah kemungkaran dengan kekuasaan yang dimilikinya.

3. Menjadi pemimpin yang bisa memerintah rakyat dengan adil.

4. Selalu bersikap mengabdi kepada Allah.

Kesimpulan:

Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi (dunia) serta akhirat. Semuanya tunduk di bawah perintah Allah. Begitu juga ketika kiamat karena tidak ada yang akan mampu menolak-Nya.

Al Matiin (Maha Kukuh)

Nama Allah ini berbeda dengan Al Qawiyy karena Al Matiin menunjukkan kukuhnya kekuatan Allah. Sedangkan Al Qawiyy menunjukkan kesempurnaan kekuatan-Nya.

Karena kekukuhan-Nya, Allah tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Siapakah yang paling kuat dan kukuh selain Allah? Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menundukkan Allah meskipun seluruh makhluk di bumi ini bekerja sama.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh. [Q.S. Adz Dzariyat: 58]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Matiin:

1. Beristiqomah (meneguhkan pendirian).

2. Beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan.

3. Terus berusaha dan tidak putus asa.

4. Bekerja sama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.

Kesimpulan:

Allah kukuh dalam Dzat, sifat, perbuatan, kehendak, wujud, dan dalam segala hal.

Al Maajid (Maha Mulia)

Nama Allah Al Maajid ini menunjukkan Dzat Allah berada di segala puncak kemuliaan, kebesaran, keindahan, keagungan, ketinggian, dan kesempurnaan. Segala kemuliaan hanya milik Allah. Dialah sesembahan yang hanya satu, tidak ada yang dapat menandingi kemuliaan-Nya.

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Mereka (para malaikat) berkata, “Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih.” [Q.S. Hud: 73]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Maajid:

1. Tidak memperlakukan orang lain dengan buruk.

2. Berusaha menjadi seseorang yang baik hati, suka berderma, penuh dengan kemuliaan, dan berakhlak mulia.

3. Tidak menegur dengan cara keras kepada orang lain yang berbuat keliru.

4. Berlomba-lomba dalam mencari kemuliaan demi Allah semata.

Kesimpulan:

Dzat Allah mulia. Segala perbuatan Allah mulia, indah dan sempurna. Segala kemuliaan hanya milik Allah dan kemuliaan berasal dari Allah.

Al Muakhkhir (Maha Mengakhirkan)

Allah mengakhirkan hidayah atau petunjuk bagi seseorang yang Dia kehendaki. Dia juga menangguhkan siksaan bagi hamba-Nya. Hanya Allah yang dapat menunda atau mengakhirkan segala sesuatu, termasuk hari kiamat. Allah menangguhkan petunjuk bagi orang-orang yang durhaka dan menunda azab bagi orang-orang yang berdosa. Itulah bukti kasih sayang Allah karena Allah memberi kesempatan kepada mereka yang durhaka agar sadar dan memohon ampunan dari Allah.

وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأبْصَارُ

Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [Q.S. Ibrahim: 42]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muakhkhir:

1. Tidak mendahulukan kepentingan sedikit orang sehingga merugikan banyak orang.

2. Tidak takabur jika Allah menunda hukuman kita. Sesungguhnya Allah hanya menunda, tetapi tidak melupakan. Oleh karena itu, segeralah bertobat.

3. Menangguhkan segala sesuatu jika memang kurang bermanfaat.

4. Memilih hal yang paling bermanfaat untuk dilaksanakan terlebih dulu dan mengakhirkan hal yang kurang bermanfaat.

Kesimpulan:

Hanya Allah yang dapat menangguhkan dan mengakhirkan segala sesuatu. Jika Allah menghendaki segala sesuatu berakhir, tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghalangi-Nya.

Al Mubdi’ (Maha Memulai)

Allah mencipta dan membuat pola atau ciptaan yang pertama di alam ini karena Dialah wujud yang paling awal. Allah juga yang pertama kali mewujudkan segala sesuatu. Dia menciptakan alam dan manusia dengan sempurna dan sebaik-baiknya bentuk tanpa ada contoh. Coba kita bayangkan, bagaimana Allah menciptakan makhluk hidup dengan bermacam-macam cara perkembangbiakannya agar tidak cepat punah. Dialah yang memulai kehidupan ini.

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. [Q.S. Al ‘Ankabut: 19]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Mubdi’:

1. Menjadi orang yang inovatif dan kreatif dalam menghasilkan karya.

2. Menjadi pelopor kebaikan.

3. Tidak menunda-nunda pekerjaan.

4. Selalu mencetak prestasi.

Kesimpulan:

Allah memulai segala kehidupan yang ada di dunia ini. Allah-lah yang mewujudkan segala sesuatu pertama kali karena Allah jugalah wujud yang pertama.

Al Mudzil (Maha Menghinakan)

Allah Maha Menghinakan hamba-Nya. Allah akan menghinakan orang-orang yang buruk akhlaknya dan yang dikehendaki-Nya.

Al Mudzill juga berarti Allah Maha Mempermalukan orang-orang kafir ketika di dunia. Mungkin manusia tidak akan menyangka, barangkali orang-orang yang mempunyai kedudukan yang tinggi, harta berlimpah, dan mulia di mata manusia adalah orang yang paling hina dalam pandangan Allah. Hal itu disebabkan oleh kesombongan dan keangkuhan manusia yang lupa akan kewajibannya kepada Sang Khalik.

وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ

…Engkau memuliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki… [Q.S. Ali Imran: 26]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Mudzill:

1. Selalu mensyukuri nikmat Allah.

2. Selalu beribadah dan berbuat hanya untuk mengharap ridha-Nya.

3. Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang beruntung.

4. Selalu berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari sifat angkuh dan sombong.

Kesimpulan:

Allah Al Mudzill berarti Allah Maha Menghinakan seseorang yang kafir serta mempermalukannya ketika di dunia dan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Al Mujiib (Maha Mengabulkan)

Allah lebih dekat kepada makhluk-Nya daripada mereka terhadap diri mereka sendiri. Oleh karena itu, Allah selalu mendengar keinginan hamba-Nya dan akan mengabulkannya. Bahkan, Allah juga memberi tanpa menunggu diminta. Allah senantiasa mengabulkan permohonan hamba-Nya. Pengabulan permintaan dari Allah bisa terjadi dengan sangat cepat, bisa juga ditunda, dan bisa juga diganti dengan yang lebih baik dari permintaan semula.

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya). [Q.S. Hud: 61]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Mujiib:

1. Berdoa hanya kepada Allah.

2. Mengabulkan sesuatu yang diminta oleh orang yang membutuhkan (fakir miskin).

3. Selalu memberi tanpa menunggu diminta orang lain.

4. Kalau tidak bisa memberikan sesuatu kepada orang lain ketika diminta, tolaklah dengan perkataan yang baik.

Kesimpulan:

Allah Maha Mengabulkan segala permohonan dan permintaan hamba-Nya, baik diminta maupun tidak diminta. Allah akan memberikan permintaan hamba-Nya dengan sangat cepat, menunda, atau mengganti dengan yang lebih baik.

Al Mu’izz (Maha Memuliakan)

Allah Maha Memuliakan hamba-Nya. Allah memuliakan dan mengangkat derajat orang-orang yang berakhlak baik dan yang dikehendaki-Nya. Manusia tidak akan menduga barangkali seseorang yang di dunia begitu dimusuhi dan dihina, akan menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. Keadaan demikian adalah karena kehendak Allah dan akhlak serta amal shaleh orang tersebut.

Ada Asmaul Husna yang artinya hampir sama, yaitu Al Majiid, yang berarti Dzat Allah Maha Mulia.

وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ

…Engkau memuliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki… [Q.S. Ali Imran: 26]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Mu’izz:

1. Sabar.

2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan selalu beribadah kepada-Nya.

3. Menjauhi semua larangan Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.

4. Selalu berdoa kepada Allah agar dilindungi dan dihindarkan dari perbuatan hina.

Kesimpulan:

Allah Maha Memuliakan hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan beramal shaleh. Kemuliaan hamba tersebut akan diperoleh di akherat.

Al Mumiit (Maha Mematikan)

Allah memberi kehidupan. Dia juga akan mematikan manusia dan seluruh kehidupan di alam ini. Allah telah menentukan takdir kematian setiap makhluk. Allah mematikan manusia agar manusia dapat menuju kepada kehidupan yang sempurna, yaitu akhirat.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى. وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. [Q.S. An Najm: 43-44]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Mumiit:

1. Pasrah kepada Allah bahwa kematian pasti datang.

2. Selalu mengingat kematian. Kematian adalah jembatan menemukan kehidupan sejati untuk bertemu dengan Sang Khalik.

3. Memanfaatkan kehidupan yang diberikan oleh Allah sebagai bekal saat kematian datang.

4. Selalu bersiap untuk mati karena Allah telah mentakdirkan kematian makhluk-Nya.

Kesimpulan:

Allah mematikan segala yang hidup di dunia ini karena Dia sudah menetapkan kematian mereka.

Al Muhshiy (Maha Menghitung)

Asma Al Muhshiy berhubungan dengan Al ‘Aliim karena Allah menghitung berdasarkan pengetahuan atau ilmu-Nya. Dengan ilmu-Nya, Dia mengetahui dengan teliti tentang segala sesuatu, dari segi jumlah dan kadarnya, panjang dan lebarnya, jauh dan dekatnya, tempat dan waktunya, kadar cahaya dan gelapnya, dan lain-lain. Tidak ada satu pun yang luput dari hitungan Allah. Segala kejadian yang telah terjadi dan yang akan terjadi sudah diperhitungkan oleh Allah secara rinci, mutlak, tepat, dan pasti. Dapatkah makhluk melakukan hal itu? Seteliti-telitinya makhluk dalam melakukan perhitungan, pasti ada kekeliruan.

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu) meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. [Q.S. Al Mujadilah: 6]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Muhshiy:

1. Berhati-hati dalam berbuat karena Allah melihat dan mencatat setiap perbuatan kita.

2. Selalu melakukan perhitungan dengan teliti dan hati-hati.

3. Tidak menghitung amal baik yang telah dilakukan karena tidak mungkin sebanding dengan nikmat yang diberikan Allah.

4. Segera memohon ampun kepada Allah terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan.

Kesimpulan:

Allah mempunyai Asmaul Husna Al Muhshiy yang berarti Allah Maha Menghitung. Perhitungan Allah selalu tepat dan terperinci, baik terhadap hal yang telah maupun yang akan terjadi.

Al Muhyiy (Maha Menghidupkan)

Allah memberi kehidupan kepada semua makhluk. Dia menghidupkan tanah gersang dengan curahan air. Allah menurunkan hujan sehingga muncullah segala macam tumbuhan yang berguna bagi makhluk hidup lain. Dia menghidupkan hati dengan semangat, cinta kasih, dan rahmat. Dia juga yang akan menghidupkan semua makhluk yang telah mati.

وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

…Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Q.S. Ali Imran: 156]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muhyiy:

1. Selalu mengingat keagungan Allah.

2. Memanfaatkan kehidupan kita untuk beribadah kepada-Nya.

3. Senantiasa beribadah kepada-Nya.

4. Tidak mengambil hak-hak orang lain, apalagi membunuhnya.

Kesimpulan:

Segala kehidupan di alam ini adalah dari Allah. Dialah pemberi kehidupan dan sumber kehidupan. Dia juga nanti yang akan menghidupkan semua makhluk yang sudah mati pada hari kiamat. Sungguh, Allah Maha Menghidupkan.

Al Muntaqim (Maha Pemberi Balasan)

Allah akan memberi balasan pada setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Balasan yang diberikan Allah berupa siksaan bagi mereka yang durhaka ketika di dunia. Allah akan memberikan balasan kepada orang yang terus-menerus berbuat maksiat, yang merasa senang terhadap kelalaian dan keangkuhan, yang senang merusak, serta yang berbuat zalim terhadap orang lain dan makhluk-Nya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa. [Q.S. As Sajdah: 22]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muntaqim:

1. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

2. Senantiasa mengingat Allah sehingga kita akan selalu merasa terawasi.

3. Berteman dengan orang yang berakhlak mulia.

4. Selalu takut akan ancaman Allah sehingga menjauhi segala yang dilarang Allah.

Kesimpulan:

Allah akan memberi balasan kepada hamba-Nya, yaitu berupa siksaan. Balasan ini akan diberikan Allah di akhirat.

Al Muqaddim (Maha Mendahulukan)

Allah mendahulukan segala sesuatu dengan kekuasaan, ilmu, dan kebijaksanaan yang dimiliki-Nya. Dia berhak mengutamakan siapa saja yang Dia kehendaki. Allah tidak akan menunda sesuatu, kecuali karena mengandung hikmah dan kebaikan. Allah juga tidak akan mempercepat segala sesuatu, kecuali ada kebaikan di balik itu. Allah mendahulukan peringatan sebelum menurunkan azab.

قُلْ لَكُمْ مِيعَادُ يَوْمٍ لا تَسْتَأْخِرُونَ عَنْهُ سَاعَةً وَلا تَسْتَقْدِمُونَ

Katakanlah, “Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat), kamu tidak dapat meminta penundaan atau percepatannya sesaat pun.” [Q.S. Saba’: 30]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muqaddim:

1. Selalu mendahulukan diri dalam berbuat kebaikan.

2. Tidak mengerjakan sesuatu yang sia-sia tanpa tujuan yang bermanfaat.

3. Tidak suka menunda-nunda pekerjaan.

4. Tidak mendahulukan kepentingan satu orang dengan merugikan kepentingan orang banyak.

Kesimpulan:

Allah Maha Mendahulukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah mendahulukan peringatan sebelum mendatangkan azab. Allah mendahulukan anugerah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Jika Allah menghendaki sesuatu mendahului yang lain, tidak ada yang mampu menghalangi.

Al Muqsith (Maha Adil)

Allah adil terhadap makhluk-Nya dalam memberikan rezeki. Keadilan Allah juga tampak dalam penetapan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Dengan sifat Al Muqsith, Allah memutuskan perkara secara adil sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya secara adil dalam semua keputusan dan ketetapan-Nya. Orang yang mengerjakan perbuatan jahat sekecil apa pun akan dibalas dengan adil oleh Allah. Orang yang berbuat baik sekecil apa pun juga akan diberi pahala kebaikan oleh Allah.

فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

…jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah) maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. [Q.S. Al Hujurat: 9]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muqsith:

1. Selalu berbuat adil, baik kepada diri sendiri maupun kepada yang lain, termasuk makhluk di sekitar kita.

2. Tidak berlaku zalim, baik kepada diri sendiri maupun kepada yang lain, termasuk makhluk di sekitar kita.

3. Beramal yang banyak supaya Allah memberikan balasan terbaik di dunia dan di akhirat.

4. Berhati-hati dalam bersikap, berkata, dan berbuat karena semua akan ada balasannya.

Kesimpulan:

Allah adil dalam segala keputusan kepada makhluk-Nya. Tidak ada makhluk yang dirugikan dengan keputusan dan ketetapan Allah.

Al Muqiit (Maha Pemelihara)

oleh Dzikir dan Doa pada 03 September 2011 jam 15:13

Allah Maha Pemelihara semua makhluk-Nya dengan cara memberi rezeki, baik rezeki jasmani maupun rohani. Dia memberi makanan sehingga dengan makanan tersebut, makhluk-Nya memiliki kekuatan.

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Q.S. An Nisa’: 85]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Muqiit:

1. Menjaga tubuh agar tetap sehat dan kuat.

2. Membantu memberi makanan kepada orang lain yang membutuhkan.

3. Memanfaatkan rezeki dari Allah dengan baik.

4. Menyediakan pangan bagi orang dan makhluk lain.

Kesimpulan:

Allah telah menyiapkan apa yang dibutuhkan makhluk-Nya, lahir dan batin. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita harus menyiapkan dan membantu makhluk lain dalam memenuhi kebutuhannya.

Al Muqtadir (Maha Menentukan)

Tidak seorang pun mampu menghentikan kehendak dan kekusaan-Nya. Allah menguasai dan menentukan segala sesuatu. Apabila menghendaki sesuatu, Dia cukup memerintahkan, “Kun fayakun” (jadilah maka jadilah). Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menghalangi kekuasaan Allah. Meskipun sangat berkuasa dan mampu melakukan apa pun yang diinginkan, Allah tidak senantiasa melakukannya.

أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ

Atau Kami perlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sungguh, Kami berkuasa atas mereka. [Q.S. Az Zukhruf: 42]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muqtadir:

1. Selalu berusaha dan berdoa kepada Allah dalam meraih keinginan.

2. Mengembalikan semua urusan kepada Allah apabila keinginan kita tidak tercapai.

3. Tidak menjadi orang yang sombong.

Kesimpulan:

Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia kuasa menjatuhkan sanksi dan melimpahkan rahmat kepada yang dikehendaki-Nya.

Al Muta’aalii (Maha Tinggi)

Ketinggian Allah tidak bisa terjangkau oleh akal manusia. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu mendekati atau menyamai ketinggian-Nya, apalagi mencapai ketinggian kedudukan Allah. Dengan ketinggian-Nya itulah, Dia terlalu sempurna dan tak terjangkau oleh akal. Sifat ini ditujukan kepada mereka yang menganggap dirinya tinggi sehingga Allah membuktikan bahwa anggapan itu keliru.

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Allah yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Maha Besar, Maha Tinggi. [Q.S. Ar Ra’d: 9]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muta’aalii:

1. Memperbaiki diri dari kekurangan iman, ibadah, dan akhlak.

2. Tidak menyombongkan diri terhadap prestasi yang telah diraih.

3. Selalu bersyukur atas prestasi yang telah diraih.

4. Membantu orang-orang yang tertindas keluar dari kesusahan, misalnya memberi pekerjaan.

Kesimpulan:

Hendaknya kita jangan merasa tinggi sebab ketinggian hanya milik Allah semata.

Al Qaadir (Maha Kuasa)

Allah memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tetapi kekuasaan ini hanya digunakan untuk mengatasi orang-orang yang melakukan aniaya.

Mereka yang telah melakukan aniaya akan diazab oleh Allah SWT dengan kekuasaan-Nya. Misalnya, orang yang selalu merusak lingkungan, akan diazab Allah dengan banjir dan tanah longsor.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain… [Q.S. Al An’am: 65]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Qaadir:

1. Memberi maaf saat kita tengah berkuasa dan mampu untuk membalas.

2. Menggunakan kekuatan dan kekuasaan untuk membarantas kezaliman.

3. Menggunakan kekuasaan serta kemampuan untuk kebaikan diri sendiri dan seluruh umat manusia.

4. Selalu tunduk kepada Allah karena kita tidak dapat mengalahkan kekuasaan Dia.

Kesimpulan:

Allah kuasa atas segala sesuatu. Allah kuasa untuk menetapkan atau menentukan sesuatu, mencabut atau memberi sesuatu tanpa ada yang dapat mencegahnya. Segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah dan semua tunduk kepada-Nya.

Al Qayyuum (Maha Berdiri Sendiri)

Allah mampu hidup sendiri dan Dia Maha Mengatur dan memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya. Dia yang mengurus makhluk tanpa membutuhkan bantuan siapa pun. Allah mengatur segala yang ada di alam ini. Adanya malaikat yang melaksanakan perintah Allah bukan karena Allah membutuhkan bantuan. Akan tetapi, hal itu menunjukkan kekuasaan Allah atas malaikat dan semua makhluk. Sudah sepantasnya semua makhluk tunduk terhadap perintah-Nya.

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). [Q.S. Ali Imran: 2]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Qayyuum:

1. Memenuhi kebutuhan pribadi secara mandiri. Misalnya makan, mandi, tidur dan mempersiapkan bekal sekolah.

2. Berusaha sekuat tenaga dalam beribadah maupun bekerja sehingga tidak bergantung kepada orang lain.

3. Menyayangi dan merawat makhluk ciptaan Allah, hewan dan tumbuhan, dengan baik.

4. Tidak menggantungkan kepada selain Allah dalam memenuhi kebutuhan.

Kesimpulan:

Allah tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Bahkan, manusialah yang butuh Allah supaya dipenuhi kebutuhannya. Dia kekal abadi tanpa bantuan siapa pun. Allah ada dan wujud dengan sendirinya.

Al Qawiyy (Maha Kuat)

Allah memiliki kekuatan paling sempurna. Segala kekuatan yang ada di dunia ini berasal dari Allah dan hanya Allah yang menganugerahkan segala kekuatan. Kekuatan Allah langgeng, abadi, dan tidak pernah menurun atau melemah.

Perhatikan langit dan bumi tempat kita berpijak. Sudah berapakah usianya? Sesungguhnya Allah-lah yang menahan dan menopang langit dan bumi supaya tidak hancur. Dan, tidak ada seorang pun yang dapat menahan dan menopangnya, selain Allah. Subhanallah! Betapa kuatnya, betapa perkasanya Allah!

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. [Q.S. Al Hajj: 74]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Qawiyy:

1. Menjadi orang yang kuat, baik lahir maupun batin.

2. Menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk hal-hal yang diridhai Allah.

3. Tidak menggunakan kekuatan untuk menganiaya yang lemah.

4. Menggunakan segala kekuatan yang dimiliki untuk menghancurkan kesesatan dan kemaksiatan di dunia.

Kesimpulan:

Allah Maha Kuat di mana pun dan kapan pun. Allah adalah pemilik segala kekuatan yang abadi. Kekuatan yang kita miliki merupakan anugerah dari Allah. Tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah.

Ar Raafi’ (Maha Meninggikan)

Allah akan meninggikan derajat orang beriman dan beramal shaleh, yang menjalankan semua perintah-Nya serta meninggalkan semua larangan-Nya. Allah meninggikan derajat orang-orang yang senantiasa berakhlak mulia dan suka berbuat kebaikan. Allah juga memuliakan orang-orang yang berilmu dan mau mengamalkannya. Kemuliaan tersebut akan diberikan Allah di akhirat.

Ada nama Allah yang artinya hampir sama dengan Ar Raafi’, yaitu Al ‘Aliyy (Maha Tinggi). Al ‘Aliyy berarti Maha Tinggi Dzat dan Kedudukan Allah, yang lebih dari segala apapun yang dipandang tinggi di alam semesta.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. [Q.S. Al Mujadilah: 11]

Akhlak Kita Terhadap sifat Ar Raafi’:

1. Rajin shalat, membaca Al Qur’an.

2. Gemar mencari ilmu dan mengamalkannya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

3. Menghormati orang lain.

4. Senantiasa berperilaku dengan akhlak mulia agar Allah meninggikan derajat kita.

Kesimpulan:

Dengan sifat Allah yang Maha Meninggikan, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta orang-orang yang berilmu pengetahuan, di akhirat. Meskipun seseorang dihina dan dilecehkan di dunia, di akherat Allah akan meninggikan dan mengangkat derajatnya lebih tinggi daripada orang yang merendahkannya ketika di dunia.

Ar Raqiib (Maha Mengawasi)

Allah tidak pernah lengah mengawasi dan memperhatikan hamba-hamba-Nya. Allah tidak pernah tidur dalam mengawasi makhluk-Nya. Pengawasan Allah tidak bertujuan untuk mencari kesalahan manusia, tetapi sebaliknya, mencatat amal yang dilakukan manusia agar tidak terlewat satu pun.

Allah mengutus malaikat raqib dan ‘Atid untuk mengawasi dan mencatat setiap perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan. Di hari akhir kelak, buku catatan amal ini akan ditimbang. Jika amal baik kita lebih banyak, kita akan bahagia karena masuk surga. Sebaliknya, jika amal buruk kita lebih berat, kita akan sengsara karena masuk neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

…Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. [Q.S. An Nisa’: 1]

Akhlak Kita Terhadap sifat Ar Raqiib:

1. Menjaga perasaan, fikiran, dan perbuatan kita agar selalu dalam petunjuk Allah.

2. Selalu melakukan amal baik supaya tetap diperhitungkan Allah.

3. Selalu menyadari bahwa Allah selalu mengawasi kita.

4. Tidak lengah terhadap bisikan setan.

Kesimpulan:

Allah mengawasi segala amal perbuatan yang dilakukan manusia. Pikiran dan perasaan hamba-Nya juga diawasi Allah. Walau bersembunyi dilorong-lorong yang gelap, Allah senantiasa mengawasi. Oleh karena itu, manusia harus selalu beramal baik. Amal kebaikan sekecil biji sawi pun akan tetap dinilai pehalanya oleh Allah.

Ar Ra’uuf (Maha Pelimpah Kasih)

Allah sangat mengasihi semua makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia dan rahmat Allah. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, malaikat, dan jin adalah makhluk yang mendapat rezeki dan nikmat dari-Nya. Bahkan, kepada orang jahat pun Allah tetap menyayangi dan mengasihi.

Nama Allah yang memiliki arti sama dengan Ar Ra’uuf adalah Ar Rahmaan (Maha Pengasih). Ar Ra’uuf adalah anugerah Allah yang selalu melimpah, bahkan melebihi dan diberikan kepada yang disenangi Allah. Sedangkan, Ar Rahmaan, anugerah Allah hanya sesuai dengan kebutuhan makhluk dan diberikan kepada siapa saja.

وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

…Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. [Q.S. Al Baqarah: 143]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Ar Ra’uuf:

1. Menyayangi semua manusia karena mereka adalah saudara kita.

2. Menyayangi semua makhluk yang ada di bumi, baik tumbuhan maupun hewan karena semua itu adalah ciptaan Allah.

3. Tidak mengasihi musuh-musuh Allah.

4. Selalu menjaga silaturrahim dan ukhuwah islamiyah.

Kesimpulan:

Kasih sayang Allah terlihat dari berlimpahnya anugerah kepada manusia, baik kepada yang beriman maupun durhaka. Allah tiada henti memberi rahmat dan anugerah kepada hamba-Nya.

As Samii’ (Maha Mendengar)

Allah selalu mendengar bisikan hamba-Nya yang memohon dan berdoa kepada-Nya. Dia selalu mendengar bisikan hati orang-orang yang bersujud dan bersyukur kepada-Nya. Allah selalu memberikan limpahan rahmat dan pahala kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Allah juga selalu mendengar segala bisikan dan ucapan manusia walaupun ucapan atau bisikan tersebut dirahasiakan. Allah pasti mendengar setiap keluhan orang-orang yang dianiaya serta orang-orang yang memohon kepada-Nya. Mendengarnya Allah tidak dengan telinga seperti manusia, tetapi dengan pengetahuan-Nya.

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. [Q.S. An-Nisa’: 148]

Akhlak Kita Terhadap sifat As-Samii’:

1. Berhati-hati dalam berbicara

2. Memilih dan mencamkan hal-hal yang baik untuk didengar

3. Menggunakan telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah

4. Tidak melayani ucapan jahil dan tidak sopan dari orang lain, lebih baik menghindar

Kesimpulan:

Allah Maha Mendengar segala suara, baik yang terucap maupun yang masih di dalam hati.

Ash Shamad (Maha Tempat Bergantung)

Allah pasti dibutuhkan oleh hamba-Nya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, dan meminta segala sesuatu. Semua makhluk menggantungkan harapan mereka hanya kepada Allah untuk memperoleh segala kebaikan dan kebajikan. Hanya Allah yang dapat meluluskan permohonan hamba-Nya.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah tempat meminta segala sesuatu. [Q.S. Al Ikhlash: 2]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Ash Shamad:

1. Berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dalam urusan agama dan dunia.

2. Dapat menyelamatkan urusan orang lain dengan tenaga, pikiran, dan tutur kata yang baik.

3. Menjadikan Allah sebagai tumpuan pertama dalam meminta semua keinginan kita.

4. Tidak bermohon kecuali hanya kepada Allah.

Kesimpulan:

Hanya Allah tempat kita memohon dan mengadukan segala urusan. Allah Ash Shamad sebagai satu-satunya tempat tujuan permohonan dan tumpuan harapan manusia.

Asy Syahiid (Maha Menyaksikan)

Tahukah kalian, Allah sekarang sedang menyaksikan kita? Cara duduk kita, cara bicara kita, cara kita mendengarkan nasihat, atau apa saja disaksikan Allah. Allah sangat dekat dengan kita, lebih dekat dibanding urat leher kita sendiri. Allah tahu apa yang tampak dan yang tersembunyi di dalam hati. Segala yang dilakukan manusia selalu disaksikan oleh Allah, baik perbuatan besar maupun kecil.

Yang membedakan asma Asy Syahiid dengan Al ‘Aliim (Maha Mengetahui) adalah bahwa Al ‘Aliim meliputi hal yang gaib dan nyata. Sedangkan, Asy Syahiid meliputi hal yang nyata saja.

قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Katakanlah (Muhammad), “Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S. Saba’: 47]

Akhlak Kita Terhadap sifat Asy Syahiid:

1. Berhati-hati dalam berbicara dan bertingkah laku.

2. Mengucap basmallah setiap akan melakukan sesuatu.

3. Selalu menepati janji.

4. Menjadi saksi yang benar dan tidak mudah dipengaruhi.

Kesimpulan:

Allah Maha Menyaksikan seluruh perbuatan makhluk-Nya. Oleh karena itu, Allah mempunyai Asmaul Husna Asy Syahiid.

Asy Syakuur (Maha Menerima Syukur)

Hanya Allah yang layak dipuji. Dia melipatgandakan ganjaran bagi amalan manusia yang sedikit dengan pelipatgandaan tanpa batas. Misalnya, seseorang yang berderma atau bersedekah, dia merasa bahwa harta yang diberikan berkurang. Padahal, tanpa sepengetahuannya, Allah akan melipatgandakan sedekah yang dia berikan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

…Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. [Q.S. Luqman: 31]

Akhlak Kita Terhadap sifat Asy-Syakuur:

1. Rajin bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

2. Senang berterikasih kepada sesama atas kebaikan-kebaikan yang diberikan kepada kita.

3. Menaati perintah Allah dan menjalankan kewajiban sebagai cara untuk bersyukur.

4. Memuji kebaikan orang lain dan membalasnya dengan yang lebih baik.

Kesimpulan:

Tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bersyukur. Jika manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat lebih banyak. Allah melipatgandakan pahala dan ganjaran-Nya tanpa memandang banyak sedikitnya amalan yang dimiliki hamba-Nya.

At Tawwaab (Maha Penerima Tobat)

Allah sangat senang menerima tobat dari hamba-Nya. Dia dapat menerima tobat meskipun hamba-Nya melakukan dosa yang berulang-ulang. Betapa pun banyak dosa dilakukan manusia, Allah selalu membuka pintu tobat.

إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang. [Q.S. Al Baqarah: 160]

Akhlak Kita Terhadap Sifat At  Tawwaab:

1. Selalu memohon ampun kepada Allah.

2. Memaafkan orang lain sebelum orang yang bersalah tersebut meminta maaf.

3. Bertobat dengan cara yang benar, yaitu mengakui kesalahan, berjanji tidak mengulangi, dan memperbanyak amal shaleh.

4. Segera bertobat jika melakukan perbuatan dosa.

Kesimpulan:

Allah memudahkan jalan menuju tobat kepada hamba-Nya dengan cara menampakkan tanda kebesaran-Nya, mengingatan ancaman-Nya, dan memberi peringatan.

Al Waahid (Maha Tunggal)

Allah Maha Tunggal, tidak terdiri atas bagian-bagian. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dia berbeda dari apa pun di dunia ini. Dia tidak bersosialisasi atau bergabung dengan manusia (menyendiri). Allah adalah penguasa tunggal, tidak ada yang dapat menandingi-Nya. Jika bersama Allah, kita tidak akan butuh siapa pun. Namun, meskipun kita bersama orang banyak atau siapa pun, pasti kita tetap membutuhkan Allah. Itulah Allah Al Waahid.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. [Q.S. Al Baqarah: 163]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Waahid:

1. Menjauhkan diri dari kebiasaan bermuka dua karena hal tersebut adalah syirik yang terselubung.

2. Tidak mempersekutukan sesuatu atau seorang pun selain Allah karena hanya Dia yang wajib kita sembah.

3. Selalu mengagungkan-Nya dengan memperbanyak zikir.

Kesimpulan:

Allah adalah penguasa tunggal dan tiada sesuatu pun yang dapat menyaingi kekuasaan-Nya atau pun sekedar menyamai-Nya. Allah adalah Dzat yang unik dan berbeda dengan zat apa pun.

Al Wakiil (Maha Mengurus)

Hanya Allah yang pantas menyelesaikan segala persoalan kita. Allah mengurus segala urusan makhluk-Nya. Allah dapat melaksanakan segala hal tanpa ada yang bisa menghalangi. Misalnya, kamu menduduki jabatan tertentu dan mengutus seseorang untuk mewakilimu dalam suatu urusan. Tentunya kamu ingin urusan tersebut berhasil, bukan? Nah, hanya Allah yang dapat meluluskan permohonan dan permintaan kita. Dialah sebaik-baik yang mengurusi segala urusan.

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia; Dialah pemelihara sesuatu. [Q.S. Al An’am: 102]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Wakiil:

1. Melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan diniatkan untuk mencari ridha Allah.

2. Mengerjakan amanat sebaik-baiknya dan menjadi orang yang dipercaya.

3. Menghindari kemalasan karena Allah tidak menyukai orang yang malas.

4. Memasrahkan semua urusan (tawakal) kepada Allah setelah berusaha dan berdoa.

Kesimpulan:

Allah adalah Al Wakiil, Maha Mewakili atau Maha Mengurusi. Kita harus mewakilkan segala urusan hanya kepada Allah karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menghalangi jika kita mewakilkan segala urusan kepada Allah.

Al Waalii (Maha Pelindung)

Allah adalah penguasa alam semesta. Allah menguasai nasib makhluk-Nya yang ada di dunia dan di akhirat nanti. Karena Allah menguasai makhluk, Dia dapat mengatur, mengurusi, dan melindungi sekehendak-Nya.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah. [Q.S. Al Baqarah: 107]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Waalii:

1. Membimbing orang lain melakukan tugas dan kewajiban sesuai dengan kemampuannya.

2. Memberi perlindungan dan pemeliharaan kepada masyarakat.

3. Tidak mencari perlindungan kecuali kepada Allah.

4. Selalu tunduk dan patuh kepada perintah Allah.

Kesimpulan:

Allah adalah penguasa, pemerintah, pelindung, dan pemilik segala sesuatu. Dia dapat mengelola dan menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Al Waajid (Maha Menemukan)

Allah tidak membutuhkan sesuatu. Dia sangat sempurna. Dia menemukan siapa di antara hamba-Nya yang tidak berdaya. Dengan ilmu dan kekayaan-Nya, Allah mengambil langkah tepat untuk menolong hamba-Nya.

وَمَا وَجَدْنَا لأكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sebaliknya, yang Kami dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang benar-benar fasik. [Q.S. Al A’raf: 102]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Waajid:

1. Selalu yakin akan menemukan yang lebih baik ketika kehilangan sesuatu.

2. Segera mengambil langkah jika ada sesuatu yang harus segera diselesaikan.

3. Selalu yakin bahwa Allah menemukan kita di mana pun kita berada.

4. Tidak menyesali segala sesuatu yang terlepas dari tangan kita karena mungkin memang tidak diperuntukkan bagi kita.

Kesimpulan:

Allah selalu menemukan hamba-Nya di mana pun hamba-Nya berada dan dalam keadaan apa pun. Dia akan memberi sesuai dengan apa yang ia perbuat atau butuhkan.

Al Waduud (Maha Mencintai)

Allah dicintai makhluk-Nya dan Dia pun mencintai mereka. Allah menanamkan rasa cinta pada diri makhluk-Nya. Allah juga selalu menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. Dengan Al Waduud-Nya, Allah mencintai seluruh makhluk ciptaan-Nya tanpa kecuali.

Jika Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya, bukanlah untuk kepentingan Allah, melainkan untuk kepentingan kebahagiaan kita sendiri. Karena bagi Allah, ada atau tidak adanya orang yang beribadah kepada-Nya, tidak akan mengurangi kasih sayang dan kecintaan Allah.

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih. [Q.S. Al Buruj: 14]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Waduud:

1. Mengasihi sesama manusia dan seluruh makhluk Allah.

2. Menolong teman dengan hati ikhlas.

3. Tidak membeda-bedakan dalam memberi sesuatu.

4. Mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.

Kesimpulan:

Allah Al Waduud adalah Allah Maha Mencintai makhluk-Nya. Dia selalu memberi dan mencintai makhluk-Nya tanpa kecuali.

Al Waasi’ (Maha Luas)

Allah yang Maha Luas mempunyai kekuasaan tidak terbatas, yang meliputi seluruh alam semesta. Luas ilmu-Nya, luas pengetahuan-Nya, luas ampunan-Nya, luas kasih sayang-Nya, luas rezeki-Nya, serta luas yang tidak bertepi dan berakhir.

Seorang muslim tidak boleh sombong dan berbangga diri dengan kepandaiannya. Ia harus sadar bahwa ilmu pengetahuan yang dimilikinya hanyalah sebagian kecil dari ilmu pengetahuan yang diberikan Allah. Ilmu pengetahuan manusia bagaikan setetes air di lautan yang luas jika dibanding dengan ilmu Allah.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. [Q.S. Al Baqarah: 268]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al-Waasi’:

1. Selalu rendah hati dan tidak sombong.

2. Bersemangat belajar untuk mencari ilmu pengetahuan yang lebih luas.

3. Mengamalkan ilmu yang diperoleh agar bermanfaat bagi orang lain.

4. Saling bersilaturrahim untuk memperbanyak persaudaraan dan memperluas wawasan.

Kesimpulan:

Tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri karena kepandaian, kekayaan, dan jabatannya. Di atas langit masih ada langit. Jika dibandingkan dengan ke-Mahaluas-an Allah, manusia hanyalah setetes air di tengah samudra.

Al Wahhaab (Maha Pemberi)

Allah memberi karunia kepada semua makhluk yang Dia kehendaki. Allah memberi tanpa pamrih atau mengharap imbalan. Allah memberi kepada semua makhluk tanpa diminta dan tanpa merasa bosan, kapan pun dan dimana pun makhluk berada. Dia terus memberi dan memberi karena Allah memang Maha Pemberi. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi semua makhluk-Nya.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Mereka berdoa, “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” [Q.S. Ali Imran: 8]

Meneladani sifat Al Wahhaab:

1. Suka memberikan sesuatu kepada orang lain.

2. Memberi sesuatu dengan ikhlas.

3. Memberi kepada orang lain tanpa diminta atau disuruh.

4. Hendaknya kita terus menerus memberi sesuatu kepada orang lain sekuat tenaga.

Kesimpulan:

Allah Maha Pemberi kepada semua makhluk-Nya. Allah akan tetap memberi apapun yang dibutuhkan makhluk-Nya.

Azh Zhaahir (Maha Nyata)

Alam ini adalah bukti bahwa Allah ada dan nyata. Namun, tidak ada satu pun yang mampu melukiskan-Nya karena terbatasnya penglihatan manusia. Allah selalu bersama kita dan selalu hadir di mana pun kita berada. Bukti Allah bersama kita adalah dengan adanya ciptaan-Nya, seperti matahari, bulan, langit dan bumi. Juga adanya siang, malam, hujan, panas, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Q.S. Al Haadid: 3]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Azh Zhaahir:

1. Membuat karya-karya indah dan bermanfaat.

2. Meninggalkan dosa-dosa yang bersifat lahiriah.

3. Tidak menyakiti hewan, tumbuh-tumbuhan, dan manusia karena mereka makhluk ciptaan Allah.

4. Selalu berhati-hati dalam bertindak karena Allah selalu hadir dan mengawasi kita.

Kesimpulan:

Allah itu Azh Zhaahir, yang berarti Maha Nyata atau Maha Ada. Adanya Allah dibuktikan dengan adanya alam ini. Allah selalu hadir di dekat kita. Hanya orang-orang yang beriman yang dapat merasakan kehadiran Allah di hatinya. Namun, tidak ada yang tahu bentuk Allah.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150343178989709