Barang siapa tawadhu’ di dunia karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)nya pada hari kiamat.
(HR. Al Baihaqi, shahih lighairihi)
Tawadhu’ berasal dari kata tawadha’a-yatawadha’u-tawadhu’an yang artinya merendahkan diri, rendah hati, atau meletakkan di bawah. Pengertian terakhir itu senada dengan wadha’a yang artinya tempat atau letak. Secara istilah, tawadhu’ berarti menganggap orang lain lebih mulia dari diri kita dan tidak merendahkan mereka. Tawadhu’ lebih dekat dengan istilah rendah hati dalam bahasa Indonesia, tetapi ia bukan sikap minder atau rendah diri.

Bagaimana kiat agar kita mudah tawadhu’? Intinya adalah bagaimana kita bisa melihat sisi-sisi kebaikan dan keunggulan orang lain sehingga kita dapat belajar dari kemuliannya sekaligus tidak merasa lebih mulia darinya.

Ketika bertemu dengan orang yang lebih muda, katakan pada diri kita: “Orang ini lebih muda dariku, tentu dosa-dosanya lebih sedikit dibandingkan denganku. Kemaksiatannya belum sebanyak diriku.”

Ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, katakan pada diri kita: “Orang ini lebih tua dariku, tentu amal-amalnya lebih banyak dariku. Ia telah beribadah lebih lama dari diriku.”

Ketika bertemu dengan orang yang lebih kaya, katakan pada diri kita: “Orang ini lebih kaya dariku, Ia telah dikaruniai sesuatu yang dengannya. Ia bisa berzakat dan bersedekah. Infaq dan jihad hartanya tentu lebih banyak dariku.”

Ketika bertemu dengan orang yang lebih miskin, katakan pada diri kita: “Orang ini lebih sedikit hartanya dibandingkan diriku. Ia lebih mudah dan lebih singkat hisabnya dari diriku, dan lebih besar pahala sabarnya dibandingkan denganku.”

Ketika bertemu dengan orang yang pandai, katakan pada diri kita: “Orang ini lebih banyak ilmunya dariku. Ia lebih alim dari diriku dan dengan ilmunya Allah meninggikan derajatnya.”

Ketika bertemu dengan orang yang bodoh, katakan pada diri kita: “Ketika orang ini bermaksiat, dosanya lebih ringan dariku. Sebab ia bermaksiat dalam kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat padahal aku mengetahui ilmunya.”

Ketika bertemu dengan anak muda yang telah bergabung dengan dakwah, katakan pada diri kita: “Pemuda ini sungguh luar biasa. Ia telah mendapatkan hidayah dan aktif berdakwah sejak muda. Sungguh pahalanya telah mengalir sejak usia muda yang saat di usia itu aku belum ada apa-apanya.”

Ketika bertemu dengan orang tua yang baru bergabung dengan dakwah, katakan pada diri kita: “Orang tua ini sungguh beruntung. Ia mendapatkan hidayah Allah di penghujung usianya. Sedangkan diriku, sanggupkah aku istiqamah hingga di usia senja sepertinya?”

Ketika bertemu dengan ikhwah yang tilawahnya banyak, katakan pada diri kita: “Ikhwah ini tilawahnya lebih banyak dariku. Pahala dan kebaikannya juga lebih banyak dariku karena tiap huruf diganjar sepuluh kebaikan.”

Ketika bertemu dengan ikhwah yang tilawahnya sedikit, katakan pada diri kita: “Ikhwah ini tilawahnya lebih sedikit dariku. Mungkin ia mentadabburi ayat demi ayat yang dibacanya, maka ia lebih utama karena kualitasnya daripada kuantitas tilawahku.”

Ketika bertemu dengan … katakan pada diri kita …

Silahkan Anda yang meneruskan, karena pengalaman Anda insya Allah lebih banyak dan lebih memperkaya kiat tawadhu’ untuk kita bersama. [Muchlisin]